Sashaoyster’s


Kemitraan Bisnis Jamur Tiram
Februari 9, 2008, 6:06 am
Filed under: Tak Berkategori

Caranya, ia menyediakan kumbung serta baglog, juga membantu dalam pemasaran jamur tiram yang diproduksi oleh petani mitra. Selain itu, ia juga memberi pelatihan cara budidaya jamur tiram yang baik, manajemen produksi dan keuangan, serta pemasaran. Dalam satu periode panen (45 hari), umumnya petani sudah bisa kembali modal. Sedangkan kumbung bisa bertahan hingga lima tahun dengan perbaikan ringan di bagian rak baglog dan dinding yang terbuat dari bambu. 

Konsentrasi di Pembesaran

 Kumbung dan baglog dibuat agar sesuai dengan standar budidaya jamur tiram yang dikerjakan  farm-nya yang terletak di Desa Pandansari, Kecamatan Ciawi, Bogor. “Saya sudah memperhitungkan keuntungan buat mitra dan mengambil sedikit untuk biaya produksi dan anak-anak yang bekerja membuat baglog,” ujar H. Achmad. Baglog produksinya dijual dengan harga Rp1.250/buah dengan biaya produksi sekitar Rp900/baglog. Dalam sehari, ia  mampu memproduksi kurang lebih 5.000 baglog  yang digunakan sendiri maupun untuk mitra.

Selain itu, kumbungnya juga menghasilkan  800—1.000 kg jamur tiram segar/hari, termasuk jamur produksi petani mitra. “Jika mereka sudah kuat, kemudian ingin produksi dan jual jamur sendiri, silakan. Saya justru senang karena mereka bisa berdikari,” ujarnya.  Namun, ia  tahu petani pemula umumnya belum menguasai budidaya dan pemasaran jamur. Itulah sebabnya mereka mencari aman dengan membeli baglog yang baik dan terjamin pemasarannya terjamin. Menurutnya, pemula sebaiknya tidak mengelola usaha jamur dalam skala yang terlalu besar, yaitu sekitar 10.000—25.000 baglog dan hanya berkonsentrasi di bagian pembesaran (grower). “Setelah mengetahui seluk-beluk budidaya jamur dan lika-liku pemasaran jamur, petani dapat mulai belajar membuat baglog dan bibit jamur,” sarannya. Sebagian orang menganggap aktivitas di kumbung tidak ada ilmunya. “Padahal sebaliknya, grower sangat banyak ilmunya dan tidak tertulis di buku manapun,” ujar Bahrul Ulum, Manajer Produksi jamur tiram milik H. Achmad. Berbeda dengan pembibitan yang sudah standar, pengelolaan grower sangat tidak standar dan banyak tantangannya. Diserap Pasar Tradisional Lili, salah satu petani mitra H. Achmad yang memulai usahanya dengan 10.000 baglog. Dalam waktu tiga bulan, ia mampu menghasilkan 3 ton jamur tiram atau rata-rata 35 kg/hari.
“Hasil ini belum maksimal karena kami baru belajar,” aku Lili yang mengerjakan usaha jamur tiramnya secara gotong royong dengan petani lain di wilayah Parung, Bogor. Ia mengakui, awalnya sempat khawatir soal pemasaran, tetapi akhirnya menjadi  percaya diri karena produksinya bisa diserap pasar tradisional setempat.  “Saya yakin,  kalau produksi  jamur sudah mencapai 100 kg/hari, pedagang akan datang sendiri,” ujar Lili. Menurut Bahrul Ulum, pemasaran jamur sebenarnya tidak ada masalah asalkan diproduksi dalam jumlah besar. “Oleh karena itu, saya sarankan agar pembudidaya jamur berkelompok sehingga produksi jamur dalam satu unit produksi cukup besar,” katanya lagi.

Tujuannya, agar pedagang pedagang dapat membeli jamur dalam jumlah besar sehingga menghemat biaya transpor. Selain itu, usahakan agar menghasilkan produk yang baik, yaitu jamur tiram yang bersih, segar, tidak basah, tidak pecah, dan rapi penataannya. Di tingkat petani, jamur tiram dijual dengan harga Rp6.500/kg untuk partai besar dan Rp7.500/kg untuk eceran. Jamur berkualitas baik dapat bertahan kesegarannya hingga 36 jam pada suhu kamar.  Sumber: Agrina-online

Iklan


Menebar jamur meraup untung
Februari 1, 2008, 8:01 am
Filed under: Tak Berkategori

Budaya pola hidup sehat yang kini merebak di tengah masyarakat kita benar-benar menjadi berkat bagi orang yang hidupnya di pedesaan. Mau bukti?

Saat ini, akibat tren minat masyarakat terhadap sayuran organik memuncak akibat pola hidup sehat telah menjadi gaya hidup masyarakat, jamur (termasuk jamur tiram) telah menjadi salah satu bisnis yang menggiurkan karena menjadi penganan alternatif. Bahkan, akibat tingginya permintaan, semua permintaan belum mampu dipenuhi. Permintaan jamur tiram dari pasar induk dan supermarket saat ini mencapai 20 ton per hari. Semua itu, belum bisa dipenuhi para petani di sentra budi daya jamur tiram di Kecamatan Cisarua dan Parongpong kawasan Lembang Bandung.

Para petani jamur tiram di Lembang baru bisa memenuhi setengahnya atau 10 ton per hari untuk kebutuhan pasar induk di Bandung, Tangerang, Jakarta serta beberapa supermarket.

“Peluang bisnis ini, kedepan sangat baik,” kata M Kudrat Ketua Masyarakat Agribisnis Jamur Indonesia (MAJI) saat ditemui di sentra budi daya Cisarua. Selain tren tadi, juga disebabkan Deptan mengelompokan jamur sebagai sayuran organik yang dibudidayakan tanpa pestisida.

Akibatnya, kini, tren permintaan setiap tahun terus melonjak rata-rata 10% per tahun. “Tapi belum sebanding dengan pasokan. Bahkan penambahan jumlah petani jamur tiram, pun belum mencukupi.”

Sejak 2006, pasar jamur tiram sudah beralih ke supermarket. Tapi pasokan jamur tiram dari MAJI ke supermarket masih terbilang rendah 0,5 ton per hari. Padahal, beberapa konter Toserba Yogya di Bandung mengemas jamur secara cantik sehingga menarik minat konsumen. Senior Operation Manager Toserba Yogya Bandung Hendarta mengatakan pasar jamur tiram untuk kalangan ekonomi menangah ke atas. “Mereka umumnya mengerti soal kesehatan dan jamur bergizi tinggi selain pangan organik,” ujarnya.

Dia mengakui prospek pasar jamur tiram ke depan sangat tinggi jika dibare- ngi dengan sosialisasi ke masyarakat. Terutama mengenai kandungan gizi dan manfaat mengonsumsi jamur. “Jamur bisa menjadi substitusi daging atau telur ayam. Kandungan gizinya hampir sama,” tambahnya.

Berdasarkan penelitian Sunan Pongsamart, biochemistry, Faculty of Pharmaceutical Universitas Chulangkorn, kandungan asam amino esensial jamur tiram mencapai 46,0 gram/100 gram protein. Sedikit di bawah telur ayam dengan kandungan 47,1 gam/100 gram protein. Dalam 100 gram jamur mengandung 2,13 gram protein; 90,7 gram air; 32,4 kalori; 5,76 gram karbohidrat; sisanya serat zat ebsi, kalsium, vitamin B1, B2 dan Vitamin C.

Kini, jumlah petani yang terjun membudidayakan jamur tiram belum banyak kecuali di Kecamatan Cisarua Lembang Bandung, pelopor dan sentra budi daya jamur tiram di Indonesia. Kudrat mengakui beberapa daerah seperti Garut, Cianjur, Sukabumi, hingga Bali dan beberapa daerah dataran tinggi di Sumatra sudah mengembangkan jamur tiram. “Namun masih terbatas.”  Di Lembang, jumlah anggota MAJI yang membudidayakan jamur tiram 300 orang. Mereka membentuk kelompok-kelompok usaha guna memenuhi tingginya permintaan itu.

Peluang Investasi
Budi daya jamur relatif mudah dan murah. Selain bahan baku media serbuk gergaji yang berlimpah, jamur tiram termasuk tanaman bandel terhadap hama dan mudah beradaptasi dengan lingkungan. Itu sebabnya jamur digolongkan tanaman organik karena bebas pestisida. Basuki Rachmat, Sekretaris MAJI, mengatakan usaha jamur minimal dibutuhkan tiga buah kumbung atau rumah tanam berupa bangunan dari bambu dan kayu di atas lahan 8×6 meter. Satu kumbung dibutuhkan biaya Rp20 juta yang tahan hingga lima tahun. Per tahun, biaya susutnya 10%.

Dalam satu kumbung dibuat rak-rak yang mampu menampung 10.000 media siap tanam (baglog) yang bisa langsung dibeli di Cisarua seharga Rp1.250 per baglog. Baglog merupakan campuran media tanam dengan bahan baku utama serbuk gergaji dan campuran material organik lainnya yang mengandung lignin atau selulosa. Jika membuat sendiri harganya Rp900 per baglog tapi dibutuhkan modal lebih banyak untuk membeli peralatan pengukusan.

Panen jamur dapat dilakukan tiap hari selama empat bulan atau satu siklus masa tanam. Dari satu baglog dapat dipanen maksimal 0,6 kg. Jika punya tiga kumbung dengan 10.000 baglog per kumbung berarti total dalam satu siklus dapat dipanen 18 ton.

Dengan harga rata-rata Rp5.000 per kg di tingkat petani, maka dalam satu siklus tanam diperoleh omset Rp90 juta. Setelah dikurangi biaya produksi jamur Rp2.500 per kg termasuk harga baglog, maka keuntungan yang dapat diraih Rp 45 juta per siklus tanam. “Jika panen lancar modal awal dapat kembali dalam tempo 2 hingga 3 tahun,” kata Basuki.

Harga jamur tiram pada November-Desember lalu Rp6.500 per kg di tingkat petani. Harga ini terbilang tinggi dari harga normal, Rp5.000/kg. Harga akhir konsumen jamur berkisar Rp8.000-Rp10.000 per kg. Harga ini bisa melonjak tajam jika dikirim ke luar Jawa. Di Bali, harga jamur tiram di tingkat konsumen Rp25.000 per kg, di Kalimantan Rp30.000 per kg.

Suryani pemilik Dio Mushroom Cisarua mengaku menerima permintaan dari Singapura berupa jamur segar dan dari Timur Tengah berupa kripik jamur. Namun, belum bisa dipenuhi karena masalah kontinuitas dan teknologi pengawetan. Sebab jamur segar hanya tahan dua hari.

“Selain dibuat kripik, jamur juga dibuat krupuk. Terkadang jamur sering dijadikan substitusi bahan dasar nugget, dibuat kolak dan bahan cendol serta salad dan pepes,” ujar Nunung. Basuki menyebutkan omzet jamur tiram pada 2006 mencapai Rp20 miliar per tahun. Tapi, dalam waktu dekat, omset diprediksi menjadi Rp35 miliar hingga Rp40 miliar. “Terutama jika masuk konsumen industri jamur olahan.”

“Dari angka itu, share untuk petani Rp25 miliar hingga Rp35 miliar atau sekitar 60% dari omzet total,” jelas Basuki. Padahal, lanjut dia, tingkat konsumsi jamur di Indonesia tergolong rendah. Data MAJI menyebutkan, pada 2004 konsumsi jamur orang Indonesia 0,05 kg/kapita per tahun. Di Prancis mencapai 4,5 kg/kapita per tahun dan di China 3,5 kg/kapita per tahun. Untuk ekspor, lanjut Basuki, pasar potensial ada di Amerika, Eropa dan Asia Timur.

Oleh Dadan Muhanda
Kontributor Bisnis Indonesia
Selasa, 13-FEB-2007



Potensial, Pasar Jamur di Bali
Januari 18, 2008, 4:01 am
Filed under: Tak Berkategori

Denpasar (Bali Post) –
Pemasaran jamur di
Bali cukup potensial khususnya untuk kebutuhan hotel, restoran, swalayan dan pasar tradisional. Sayangnya petani jamur Bali belum bisa memenuhi permintaan pasar karena belum tahu teknologi dan kurang pengalaman. Demikian dikatakan Ketua Masyarakat Jamur Indonesia (MAJI) Cabang Bali Ida Ayu Mariana Endang Marka, ketika memberikan pelatihan budidaya jamur di Pasar Oleh-oleh  Koperasi Krama Bali di Jalan Raya Kuta No. 88, Tuban, Rabu (5/4) kemarin.Menurutnya, jamur tiram patut diperhitungkan sebagai komoditi andalan pada sektor agrobisnis. Sebab, jamur ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Salah satunya untuk bisnis makanan olahan serta dipergunakan sebagai bahan obat. “Berkhasiat obat serta laku sebagai makanan olahan inilah membuat permintaan pasar Bali cukup banyak,” katanya.Berdasarkan data, kebutuhan jamur Bali sekitar 1.000 kg setiap bulannya. Karena sedikitnya jumlah petani yang membudidayakan jamur di Bali mengakibatkan tidak terpenuhinya permintaan pasar. Alhasil keberadaan jamur tiram baik dipasaran tradisional maupun pasar swalayan menjadi langka. “Bila dibandingkan dengan bercocok tanam jenis sayuran lainnya, kelemahan masyarakat sebagian besar karena belum tahu teknik budi daya, bagaimana cara memasarkan serta mengkalkulasi keuntungan yang diperoleh,” tuturnya.Jumlah petani jamur di Bali sekarang ini sekitar 20 orang yang tersebar di Tabanan, Jembrana, Karangasem, Bangli, dan Gianyar. Ke 20 orang petani tersebut, saat ini masih membeli bibit di PT Alam Bali Mushroom (Albamas) Bali.Mengenai harga jamur ditawarkan bervariasi tergantung jenis jamurnya. Misalnya, jamur tiram berkisar antara Rp 17.500 hingga Rp 25.000 per kg dan jamur sitake Rp 40.000 per kg. Pasar ekspor Mengenai peluang pasar ekspor sendiri, menurut Endang, kebutuhan jamur tiram dalam bentuk kering maupun yang telah dikalengkan untuk pasar Asia seperti Singapura, Taiwan, Jepang, dan Hongkong cukup tinggi. Sementara pemenuhan pangsa pasar Eropa masih terbatas akibat minimnya jumlah produksi.Masih terbatasnya produksi jamur tiram Bali untuk memenuhi permintaan pasar lokal dan pasar ekspor, harapannya, petani jamur Bali seharusnya bisa memanfaatkan peluang ini dengan membudidayakan jamu tiram lebih banyak lagi, sehingga mampu memenuhi permintaan pasar.



Berbudi Daya Jamur, Siapa Takut?
Januari 18, 2008, 3:59 am
Filed under: Tak Berkategori

KEBERHASILAN budi daya jamur kuping dan tiram membuat Slamet Widodo melakukan berbagai penelitian untuk memantapkan usahanya. Di antaranya uji coba membuat ramuan untuk memupuk bibit jamur supaya dapat tumbuh bagus.Ramuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil budi daya lahan itu ternyata juga bermanfaat untuk memacu pertumbuhan tanaman lain, seperti buah-buahan, bunga hias, dan semua jenis tanaman yang memiliki nilai ekonomi.Menurtut Slamet Widodo selaku pimpinan UD Kuping Gajah, ramuan buatannya untuk merangsang jamur dengan kemasan Cap Gajah merupakan kali pertama muncul di Indonesia. Perangsang jamur bersifat cair ini telah diuji coba keberhasilannya oleh para pakar dari perguruan tinggi dan petani.”Bahan perangsang ini terbuat dari sari buah-buahan dan pupuk organik yang berguna untuk mempercepat pertumbuhan, mempertebal dan memperbesar ukuran jamur,” kata Slamet di tempat usahanya, Jl Kaliurang KM 21, Dusun Randu, Yogyakarta, belum lama ini.Selain itu, ramuan tersebut mengandung vitamin B compleks, C, dan karbohidrat yang mampu memacu pertumbuhan jamur secara optimal. “Perusahaan kami juga mampu mengajarkan cara mengatasi penyakit ‘kepres’ yang biasa menyerang log jamur kuping,” tambah dia yang membuka usaha pembibitan, budi daya, dan jual beli jamur itu.Untuk memantapkan para petani, pihaknya menyediakan layanan teknik budi daya jamur secara gratis. Bagi yang kesulitan memasarkan hasil panenannya bisa menghubungi dia. Sebab dia siap menampung dengan harga pasaran di wilayah Kaliurang, Yogyakarta. Bermasa Depan CerahYang jelas, tuturnya, risiko petani jamur hanya 10% dari log jamur gagal panen. Karena itu, usaha budi daya jamur merupakan salah satu lapangan pekerjaan yang bermasa depan cerah. Dan ini menjadi pilihan petani dalam melakukan usaha untuk menyejahterakan keluarganya.Pemilik usaha produksi jamur kuping, tiram, lingzhie, shitake, dan chi taiku itu mengatakan, penggunaan log jumbo (jamur lebih besar, tinggi, padat, dan besar) memungkinkan petani dapat memetik panen 8 – 10 kali. Dan, frekuensi pemanenan jamur tiram lebih banyak lagi, 15-25 kali.Ramuan obat perangsang jamur yang sudah dipasarkan itu mampu mencukupi semua kebutuhan jamur kayu. Baik untuk keperluan pertumbuhan maupun perkembangan yang optimal. Hasilnya, kualitas dan kuantitas jamur dari log jumbo jauh mengungguli produksi jamur kayu lainnya. “Dalam sehari kami mampu menghasilkan 3.000 log dengan kualitas halus dan sudah menembus pasar di Pulau Jawa,’ jelasnya. Selain memproduksi log, perusahaannya juga menyediakan berbagai bibit jamur kayu. Mulai dari jamur kuping, tiram, lingzie, hingga chi taiku



Jamur, AS, dan Kelembagaan Petani
Januari 18, 2008, 3:47 am
Filed under: Tak Berkategori

Jamur kini sudah mapan di kuliner dunia. Dalam aneka bentuk, jenis dan namanya, ia menjadi pelengkap untuk salad, topping pada pizza, spaghetti, bakmi atau dressing pada beef steak. Dari tanaman liar di hutan dan gua, ia sudah jadi produk budidaya dan industri. Di Eropa, budidaya jamur telah digarap serius sejak tiga abad lalu. Orang Belanda menyebutnya champignon dan membawanya ke sini. Maka, mungkin orang Indonesia termasuk yang awal mengenal jamur sebagai sajian di meja makan. Amerika Utara mengenal jamur karena bawaan orang Belanda dan Perancis.Kini, petani jamur Amerika Serikat bisa dikatakan paling digdaya di dunia. Itu berkat kuatnya persatuan yang ditumbuhkan dari bawah secara berlapis dan berjenjang. Mulai dari rumah tangga petani yang berkelompok dalam koperasi. Koperasi-koperasi itu lalu bergabung dalam lingkup luas kecamatan (county), beranjak ke asosiasi (Mushroom Growers’ Cooperative Association) di tingkat distrik, negara bagian, wilayah (antar-negara bagian) Timur dan Barat, sampai terhimpun secara nasional di bawah National Mushroom Growers’ Association. Kelembagaan itu diperkuat pula dengan American Mushroom Institute (AMI) yang dibentuk oleh 275 kelompok petani. Lembaga nirlaba ini mempromosikan konsumsi jamur budidaya, melakukan riset,  publikasi, pendidikan konsumen, membimbing dengan metode penanaman dan penanganan yang lebih jitu. Untuk akses pembiayaan dilibatkan Farm Credit Administration. Kerjasama erat juga dijalin dengan perguruan tinggi. Dari atas, melalui akta Kongres AS – the Mushroom Promotion, Research and Consumer Information Act  (1990), dibentuklah Dewan Jamur, the Mushroom Council. Yang pertama kali dimaklumatkan oleh dewan, bulan September adalah National Mushroom Month bulan makan jamur nasional. Usaha jamur adalah rural agribusiness, artinya mayoritas pelakunya di mana pun, tak terkecuali Amerika, adalah keluarga petani di pedesaan. Pasar jamur dunia diyakini belum jenuh. Apalagi AS dan negara-negara berpenduduk besar lainnya, China dan India – menyadari benar bahwa pasar domestik senantiasa membuka prospek. AS terus berupaya mengangkat produksi jamur dalam negeri agar setidaknya menutup substitusi impor. Dari mana barang yang disebut sebagai cheap oriental canned mushrooms itu? Dari Indonesia dan India. Mereka ingin menggebah para pesaing dari luar itu. Kita juga mestinya menggalakkan pasar jamur dalam negeri, terutama jamur segar dari jenis yang sudah populer, seperti jamur tiram (Pleurotus ostreatus), merang (Volvariella volvacea), dan kuping (Auricularia sp). Jenis-jenis itu juga bisa dijadikan keripik atau dikeringkan. Sedangkan untuk ekspor, fokus pada jamur kancing alias champignon (Agaricus sp.) yang dikalengkan untuk merebut kuota Eropa. Ada pun pengembangan jenis eksotis lainnya, seperti Shiitake, Enokitake, Portabella, bisa ditempatkan pada urutan belakang.  Kelembagaan, riset, pemasaran adalah bagian dari usaha memenangkan national interests AS. Kita punya Panca Yasa Pembangunan Pertanian yang adalah bagian dari national interests kita. Itu adalah: (1) pembangunan dan perbaikan infrastruktur pertanian, termasuk infrastruktur perbenihan dan riset, (2) penguatan kelembagaan pertanian melalui penumbuhan dan penguatan kelompok petani, (3) penguatan modal dan skema pembiayaan, (4) revitalisasi sistem penyuluhan pertanian melalui penguatan lembaga penyuluhan dan tenaga penyuluh, (5) pengembangan pasar dan jaringan pemasaran yang menguntungkan petani. Tapi kelimanya ini masih lebih merupakan kata-kata di mulut presiden, menteri, dan pejabat tinggi ketika berpidato di berbagai upacara.  Kita pernah menumbuhkan kelembagaan petani melalui koperasi, dan amat konsisten dengan amanat konstitusi itu. Kita pernah mengenal kredit candak kulak, yang kalau kita renungkan, “Kok kita dulu lebih percaya kepada rakyat kita”. Kita punya PPL di semua desa dan mereka akrab dengan petani. Tapi ketika kini kita bicara tentang jamur, dan sangat mungkin pula tentang komoditas lainnya, Panca Yasa Pembangunan Pertanian itu, dan lebih khusus koperasi yang kita anggap sebagai gotong-royong dan demokrasi ekonomi asli kita, kok berjalan lebih tegas dan nyata di Amerika.



Petani Jamur Berusaha Perbaiki Harga Jual
Januari 17, 2008, 10:43 pm
Filed under: Tak Berkategori

BANDUNG, (PR).-
Kalangan petani jamur di Jabar akan kembali membuat sistem pemasaran bersama, untuk memperbaiki harga jamur yang saat ini anjlok.”Cara seperti ini beberapa waktu lalu pernah dilakukan dan berhasil menstabilkan harga jual jamur. Namun entah mengapa, sistem ini kemudian tak berjalan lagi dan para petani penanam jamur kemudian berjalan sendiri-sendiri,” ujar Ketua Masyarakat Agrobisnis Jamur Indonesia (MAJI), Kudrat Slamet, di Bandung, Senin (29/8).Disebutkan, saat ini penurunan harga jual jamur banyak terjadi di sejumlah kabupaten di Jabar, terutama Kabupaten Bandung. Ini terutama untuk jenis jamur tiram yang harganya bervariasi tergantung produk asal wilayah, ada yang harga beli pedagang pengumpul kepada petani menjadi Rp 3.000,00/kg dari semula Rp 4.000,00/kg, namun pada daerah lain ada yang hanya Rp 6.000,00/kg dari semula Rp 7.500,00/kg.Kondisi demikian, menurut Kudrat, tampaknya diperparah dengan sistem jaringan pemasaran di antara pembeli, sehingga mampu menekan harga kepada petani. Repotnya, produksi jamur tiram dari Jabar yang merupakan produsen terbesar nasional, kini rata-rata menjadi 10 ton/hari dari semula hanya 7-8 ton/hari. Di luar itu, untuk jamur jenis kuping dan shitake, belakangan marak produk impor asal Cina. Harganya pun lebih murah, di pasaran rata-rata Rp 15.000,00-20.000,00/kg dibandingkan buatan petani lokal yang umumnya Rp 30.000,00/kg. Banting hargaSementara itu, beberapa petani jamur dari Kec. Lembang, Kab.
Bandung, mengeluhkan atas sistem pemasaran jamur yang selama ini cenderung belum kembali kompak. Akibatnya, banyak terjadi sistem banting harga di antara sesama petani jamur.Selama ini, harga jamur di antara berbagai daerah sudah berlainan secara mencolok. Pasalnya, banyak petani yang terburu-buru menjual jamurnya ke tengkulak karena perlu uang mendesak.Pada sisi lain, selama ini pemasaran dan perdagangan jamur cenderung masih tradisional. Umumnya, pemasaran dan perdagangan jamur hanya dijual secara borongan panen, belum ada yang dilanjutkan dengan produk hilir, misalnya jamur kering dan jamur kemasan.”Selama ini, sulit dibedakan jamur dari Lembang, dari Parongpong, Ciwidey, atau Karawang, Bogor, dll. Padahal, produk jamur impor rata-rata sudah dikemas lebih baik sehingga lebih dikenal dengan merek dagang dan jenis produk. Kami pikir sebaiknya MAJI mampu memperjuangkan masalah ini,” ujar seorang petani jamur asal Cikole, yang tak mau disebut namanya.Di lain pihak, produk jamur sebenarnya berpotensi dipromosikan dan ditingkatkan pemasaran, dengan meningkatkan citra melalui produk organik. Namun sejauh ini, produk-produk jamur asal Jabar belum ada yang melakukan itu.Sekjen Asosiasi Pelaku Agrobisnis Organik Indonesia (Aspaindo), Yoga Udayana, membenarkan bahwa jamur sebenarnya dapat dimasukkan ke produk pertanian organik. Dasarnya, budi daya jamur umumnya tak diperlakukan dengan bahan-bahan kimia.Di masa depan, jamur berpotensi menjadi produk pertanian yang bernilai jual lebih baik. Ini jika dikaitkan, produk pertanian organik belakangan cenderung sedang lebih banyak diminati konsumen. “Namun, itu pun perlu diteliti lebih jauh. Memang dalam penanaman atau pemeliharaan umumnya tak ada perlakukan bahan kimia, namun media tempat pengembangbiakan jamur ini yang perlu diketahui, apakah ada bekas atau perlakuan bahan kimia,” jelasnya.



12 Jam untuk panen Jamur Tiram
Januari 17, 2008, 6:02 am
Filed under: Tak Berkategori

PAGI itu Sumisih (26) sibuk mempersiapkan tungku yang terbuat dari tong besar. Ia menuangkan beberapa liter air ke dalam tong. Kompor gas ia nyalakan untuk mendidihkan air tersebut. Selang beberapa waktu, setelah titik didih air dirasa cukup, warga RT 01 RW V Desa Banjaragung, Kecamatan Bangsri itu memasukkan satu persatu bungkusan plastik yang berisi grajen kayu ke dalam air mendidih itu. “Saya merebusnya (bungkusan plastik) hingga 12 jam,” tuturnya.Sembari menunggu hingga 12 jam, Sumisih menuju gudang sederhana yang menempel di samping rumahnya. Ia menenteng seember air untuk disiramkan ke bungkusan-bungkusan grajen yang telah ia rebus dan telah ditata rapi di rak-rak kayu. “Biar lembab, sebab kalau kering jamur tak bisa tumbuh cepat,” cetusnya. Selesai menyiram, Sumisih tak membuang-buang waktu, karena beberapa lembar jamur tampak sudah siap panen. Ia pun memetiknya dengan hati-hati, agar grajen tak turut tercerabut bersama akar jamur. Sambil tersenyum, wanita yang aktif di kegiatan PKK desa setempat itu, menaruh hasil panennya di tempat yang ia sediakan untuk proses pembungkusan.Ya, Sumisih adalah satu dari lima orang yang sudah dua tahun membudidayakan jamur yang diberi nama “jamur tiram” di rumahnya yang sederhana. Awalnya, wanita ini memperoleh ilmu budi daya jamur tiram itu dari kakaknya Utomo (34) yang saat ini bekerja di Jakarta.12 JamSumisih pagi itu menceritakan proses produksi jamur yang bisa dipanen dalam waktu 12 jam itu.Bahan baku budidaya jamur tiram adalah grajen kayu Sono yang warnanya cokelat kehitam-hitaman. Di Jepara, terutama di Kecamatan Mlonggo, Bangsri, Kembang, dan Keling tidak sulit didapat. Hal itu dimaksudkan untuk menghasilkan jamur yang berkualitas bagus. Namun pada dasarnya, grajen kayu lainnya seperti kayu randu juga bisa. Jika sore hari sudah tumbuh tunas jamur, maka pagi hari sekitar pukul 05.00 sudah bisa dipanen. Dalam waktu kurang lebih 12 jam, lembaran jamur sudah berdiameter 8-10 cm. “Jadi kami tiap hari bisa panen,” katanya.Penghasilan yang didapat cukup lumayan. Hanya bekerja maksimal 3-4 jam/hari, setiap orang bisa mendapatkan Rp 12.000. “Kalau bos nya bisa Rp 30.000/ hari, tuturnya.Ia menjual jamur itu ke pasar-pasar. Bahkan, ada yang kulak dengan cara datang langsung ke rumahnya