Sashaoyster’s


Berbisnis Tiram? Sewa saja!
Januari 23, 2008, 3:33 am
Filed under: Profil Petani jamur Tiram

Matahari di akhir pekan baru saja beranjak naik. Fina Fatmawati bergegas menuju Cisarua, Kabupaten Bandung, sekitar 1,5 jam dari kediamannya di Dago, Bandung. Selain sibuk kuliah, mahasiswi Jurusan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia itu punya aktivitas lain: membudidayakan 5.000 baglog jamur tiram. Hanya bermodal awal Rp7,5-juta, setidaknya Rp2-juta mengalir ke rekeningnya per 40 hari.

 Modal awal murah meriah itu lantaran Fina tak membuat kumbung sendiri. Ia menyewa sebuah kumbung milik Mamat Rahmat, pekebun jamur tiram di Cisarua, Bandung. Biaya sewa kumbung Rp300/ baglog/tahun. Jadi, untuk 5.000 baglog, Fina hanya merogoh kocek Rp1,5- juta per tahun.

Biaya itu jauh lebih rendah ketimbang membuat kumbung sendiri. Menurut NS Adiyuwono, pakar jamur di Bandung, biaya pembuatan kumbung berkonstruksi bambu mencapai Rp100.000/m2. Untuk menyimpan 5.000 baglog, dibutuhkan kumbung 35 m2. Total biaya pembuatan Rp3,5-juta. Belum lagi biaya pembuatan rak yang mencapai Rp30.000/m2 atau Rp1,05-juta. Total modal awal untuk membuat kumbung dan rak berkapasitas 5.000 baglog Rp4,55-juta. Dengan menyewa, pekebun bisa menghemat modal awal Rp3-juta.

 

Itu baru kumbung, belum ongkos pembuatan media dan tungku sterilisasi. Biaya pembuatan tungku pun cukup tinggi, bisa mencapai belasan juta rupiah. Akibatnya, biaya investasi awal kian membengkak. Oleh sebab itulah Fina lebih memilih menyewa kumbung dan membeli media yang sudah jadi. Media dipesan dari Mamat. Harga beli baglog cokelat-sebutan media yang belum diselimuti miselia-Rp1.200. Total biaya pembelian 5.000 baglog Rp6-juta. Jadi, jumlah modal awal bisnis jamur tiram dengan cara sewa kumbung hanya Rp7,5-juta.

 

Baglog putih

 

Empat puluh hari setelah pembibitan, Fina siap menuai rupiah. Saat itu sebetulnya media baru dipenuhi miselia berwarna putih. Baglog yang sudah ditumbuhi miselia disebut baglog putih. ‘Permintaan baglog putih akhir-akhir ini cukup banyak,’ kata Fina. Ia menjual baglog putih dengan harga Rp1.600 per baglog. Jadi, dalam 40 hari, lajang 22 tahun itu telah mengantongi Rp8-juta. Setelah dikurangi biaya pembelian baglog, ia masih memperoleh laba Rp2 – juta. ‘Penghasilannya lumayan,’ imbuhnya. Dengan pendapatan sebesar itu saja, Fina sudah bisa menutupi biaya sewa. Pantas bila ia berhasrat menambah sewa kumbung untuk menampung 30.000 baglog.

 

Jumlah baglog sebanyak itu memang tak seluruhnya hendak dijual dalam bentuk baglog putih. ‘Tingginya permintaan baglog putih hanya sementara, saat musim hujan saja,’ kata Fina. Menurut Mamat Rahmat, pada musim hujan, pertumbuhan miselia terhambat lantaran suhu terlalu rendah. Di Cisarua, temperatur udara di musim hujan hanya 18-20oC.

 

Untuk pertumbuhan miselia, suhu yang diperlukan 25-32oC. Akibatnya, risiko gagal tumbuh miselia makin tinggi. ‘Hingga 30%,’ kata Mamat. Oleh sebab itulah para pekebun di Cisarua lebih memilih membeli baglog putih untuk menghindari risiko gagal.

 

Toh menjual jamur segar pun menjanjikan keuntungan tinggi. Itu dialami Ernawati, pekebun jamur tiram yang juga menyewa kumbung milik Mamat Rahmat. Mulanya ibu 3 anak itu hanya membudidayakan 20.000 baglog jamur tiram. Selama 1 periode (6 bulan) Ernawati meraup laba bersih Rp13-juta atau Rp2-juta lebih per bulan.

 

Laba periode pertama itu ia investasikan untuk menambah jumlah sewa kumbung menjadi 34.000 baglog. Kini, istri pegawai RS Hasan Sadikin Bandung itu mengelola 80.000 baglog. Dari jumlah itu, Ernawati memanen 32 ton per periode tanam (6 bulan). Dengan harga jual rata-rata Rp4.500 per kg, ia meraup omzet Rp144-juta per 6 bulan. Setelah dikurangi biaya pembelian baglog dan tenaga kerja, ibu rumah tangga itu mengutip laba Rp6-juta per bulan.

 

Lebih untung

 

Tak hanya Fina dan Ernawati yang meraup laba dari jamur tiram dengan sistem sewa. ‘Ada 45 orang yang kini menyewa kumbung,’ kata Rahmat. Menurut hitung-hitungan Mamat, menyewakan kumbung ternyata menguntungkan. Selain memperoleh pendapatan tetap dari sewa kumbung, permintaan baglog pun kian meningkat. ‘Dulu hanya menjual 3.500 baglog per hari. Kini mencapai 14.000 baglog,’ katanya.

 

Yang paling menggembirakan, lokasi para penyewa kumbung berada di satu kompleks sehingga memangkas biaya transpor. Oleh sebab itu, Mamat berani memberi pelayanan ekstra bagi para penyewa. Media tanam yang dipesan tak hanya diantar hingga kumbung, tetapi langsung disusun di atas rak. ‘Tak ada tambahan biaya. Pokoknya penyewa tahu beres,’ katanya. Ia juga berani menjamin akan mengganti seluruh media yang rusak saat pengiriman dan yang gagal tumbuh miselia.

 

Layanan istimewa itu jelas menguntungkan para penyewa. Mereka terbebas dari risiko gagal tumbuh. Keuntungan itu dirasakan betul oleh Sunardi. Pria 28 tahun itu sebelumnya bekerja di salah seorang pekebun jamur tiram besar yang mengelola kumbung berkapasitas 150.000 baglog. Akibat kegagalan manajemen pada 2003 perusahaan itu gulung tikar.

 

Tak mau mengulang pengalaman pahit, pada 2004, Sunardi beralih menyewa kumbung berkapasitas 6.000 baglog. Meski keuntungannya belum tinggi, ‘Tetapi saya lebih tenang karena tidak ada risiko gagal. Toh kalau rusak juga diganti,’ katanya.

 

Oleh sebab itulah Nardi-panggilan akrabnya-terus menyisihkan keuntungan dan menambah jumlah kumbung. Kini, pria yang baru menikah setahun lalu itu mengelola 50.000 baglog. Dari jumlah itu, Nardi menuai 20 ton jamur tiram per periode tanam. Dengan harga jual Rp4.500/kg, ia memperoleh omzet Rp90-juta per 6 bulan. Setelah dikurangi biaya pembelian baglog dan tenaga kerja, pria kelahiran Wonosari, Jawa Tengah, itu mengutip laba bersih Rp3-juta per bulan.

 

Tak perlu repot

 

‘Kami menyediakan tim yang akan merawat jamur tiram milik penyewa,’ kata Mamat. Cukup membayar upah tenaga kerja Rp10.000/orang/hari, jamur tiram Anda dijamin terawat. ‘Saat saya sibuk menyusun skripsi, saya hanya sempat mengunjungi kumbung sebulan sekali,’ kata Fina. Meski begitu, rupiah tetap mengalir ke rekeningnya.

 

Bagi yang punya waktu luang, bisa menekuni usaha sampingan lain dengan menjadi pengumpul seperti yang dilakukan Sunardi dan Ernawati. Selain menjual jamur tiram hasil produksi sendiri, mereka juga membeli jamur dari penyewa lain, lalu dijual kepada para pengumpul dari Bogor dan Jakarta. Sedangkan perawatan jamur ia serahkan ke pekerja. Dalam sehari, Sunardi rata-rata mengumpulkan jamur tiram hingga 700 kg. Bila saja ia mengutip laba Rp300 per kg dari para pekebun, Nardi memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp210.000 per hari atau mencapai Rp6-juta per bulan.

 Di satu sisi, aktivitas Ernawati dan Sunardi itu memperpanjang rantai pemasaran. Namun, di sisi lain, kehadiran mereka justru membantu para penyewa yang tidak sempat memasarkan sendiri produknya. Toh harga beli yang ditawarkan pun masih menguntungkan. ‘Dengan harga jual minimal Rp3.000 per kg, pekebun masih bisa balik modal,’ kata Mamat. Dengan begitu, para penyewa bisa ongkang-ongkang kaki tanpa repot mencari pembeli.Meski bisnis jamur tiram dengan sistem sewa kumbung sangat menggiurkan, bukan berarti bebas batu sandungan. Kerugian mengancam bila pasokan media baru tersendat. Arus permintaan baglog yang kian deras memaksa Mamat menggenjot produksi baglog. Bila kebutuhan baglog tidak terpenuhi, akan menimbulkan masa jeda produksi yang berarti juga menimbulkan biaya. Untuk mengantisipasi hal itu, ‘Bagi yang memerlukan baglog baru, harus memesan sebulan sebelum penggantian baglog,’ ujar Rahmat. Dengan begitu, ia bisa memperkirakan target produksi sehingga kebutuhan baglog para penyewa dapat terpenuhi dan aliran rupiah pun tak akan terhenti.

Sumber: Trubus, Maret 2007


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: