Sashaoyster’s


Jamur, AS, dan Kelembagaan Petani
Januari 18, 2008, 3:47 am
Filed under: Tak Berkategori

Jamur kini sudah mapan di kuliner dunia. Dalam aneka bentuk, jenis dan namanya, ia menjadi pelengkap untuk salad, topping pada pizza, spaghetti, bakmi atau dressing pada beef steak. Dari tanaman liar di hutan dan gua, ia sudah jadi produk budidaya dan industri. Di Eropa, budidaya jamur telah digarap serius sejak tiga abad lalu. Orang Belanda menyebutnya champignon dan membawanya ke sini. Maka, mungkin orang Indonesia termasuk yang awal mengenal jamur sebagai sajian di meja makan. Amerika Utara mengenal jamur karena bawaan orang Belanda dan Perancis.Kini, petani jamur Amerika Serikat bisa dikatakan paling digdaya di dunia. Itu berkat kuatnya persatuan yang ditumbuhkan dari bawah secara berlapis dan berjenjang. Mulai dari rumah tangga petani yang berkelompok dalam koperasi. Koperasi-koperasi itu lalu bergabung dalam lingkup luas kecamatan (county), beranjak ke asosiasi (Mushroom Growers’ Cooperative Association) di tingkat distrik, negara bagian, wilayah (antar-negara bagian) Timur dan Barat, sampai terhimpun secara nasional di bawah National Mushroom Growers’ Association. Kelembagaan itu diperkuat pula dengan American Mushroom Institute (AMI) yang dibentuk oleh 275 kelompok petani. Lembaga nirlaba ini mempromosikan konsumsi jamur budidaya, melakukan riset,  publikasi, pendidikan konsumen, membimbing dengan metode penanaman dan penanganan yang lebih jitu. Untuk akses pembiayaan dilibatkan Farm Credit Administration. Kerjasama erat juga dijalin dengan perguruan tinggi. Dari atas, melalui akta Kongres AS – the Mushroom Promotion, Research and Consumer Information Act  (1990), dibentuklah Dewan Jamur, the Mushroom Council. Yang pertama kali dimaklumatkan oleh dewan, bulan September adalah National Mushroom Month bulan makan jamur nasional. Usaha jamur adalah rural agribusiness, artinya mayoritas pelakunya di mana pun, tak terkecuali Amerika, adalah keluarga petani di pedesaan. Pasar jamur dunia diyakini belum jenuh. Apalagi AS dan negara-negara berpenduduk besar lainnya, China dan India – menyadari benar bahwa pasar domestik senantiasa membuka prospek. AS terus berupaya mengangkat produksi jamur dalam negeri agar setidaknya menutup substitusi impor. Dari mana barang yang disebut sebagai cheap oriental canned mushrooms itu? Dari Indonesia dan India. Mereka ingin menggebah para pesaing dari luar itu. Kita juga mestinya menggalakkan pasar jamur dalam negeri, terutama jamur segar dari jenis yang sudah populer, seperti jamur tiram (Pleurotus ostreatus), merang (Volvariella volvacea), dan kuping (Auricularia sp). Jenis-jenis itu juga bisa dijadikan keripik atau dikeringkan. Sedangkan untuk ekspor, fokus pada jamur kancing alias champignon (Agaricus sp.) yang dikalengkan untuk merebut kuota Eropa. Ada pun pengembangan jenis eksotis lainnya, seperti Shiitake, Enokitake, Portabella, bisa ditempatkan pada urutan belakang.  Kelembagaan, riset, pemasaran adalah bagian dari usaha memenangkan national interests AS. Kita punya Panca Yasa Pembangunan Pertanian yang adalah bagian dari national interests kita. Itu adalah: (1) pembangunan dan perbaikan infrastruktur pertanian, termasuk infrastruktur perbenihan dan riset, (2) penguatan kelembagaan pertanian melalui penumbuhan dan penguatan kelompok petani, (3) penguatan modal dan skema pembiayaan, (4) revitalisasi sistem penyuluhan pertanian melalui penguatan lembaga penyuluhan dan tenaga penyuluh, (5) pengembangan pasar dan jaringan pemasaran yang menguntungkan petani. Tapi kelimanya ini masih lebih merupakan kata-kata di mulut presiden, menteri, dan pejabat tinggi ketika berpidato di berbagai upacara.  Kita pernah menumbuhkan kelembagaan petani melalui koperasi, dan amat konsisten dengan amanat konstitusi itu. Kita pernah mengenal kredit candak kulak, yang kalau kita renungkan, “Kok kita dulu lebih percaya kepada rakyat kita”. Kita punya PPL di semua desa dan mereka akrab dengan petani. Tapi ketika kini kita bicara tentang jamur, dan sangat mungkin pula tentang komoditas lainnya, Panca Yasa Pembangunan Pertanian itu, dan lebih khusus koperasi yang kita anggap sebagai gotong-royong dan demokrasi ekonomi asli kita, kok berjalan lebih tegas dan nyata di Amerika.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: