Sashaoyster’s


12 Jam untuk panen Jamur Tiram
Januari 17, 2008, 6:02 am
Filed under: Tak Berkategori

PAGI itu Sumisih (26) sibuk mempersiapkan tungku yang terbuat dari tong besar. Ia menuangkan beberapa liter air ke dalam tong. Kompor gas ia nyalakan untuk mendidihkan air tersebut. Selang beberapa waktu, setelah titik didih air dirasa cukup, warga RT 01 RW V Desa Banjaragung, Kecamatan Bangsri itu memasukkan satu persatu bungkusan plastik yang berisi grajen kayu ke dalam air mendidih itu. “Saya merebusnya (bungkusan plastik) hingga 12 jam,” tuturnya.Sembari menunggu hingga 12 jam, Sumisih menuju gudang sederhana yang menempel di samping rumahnya. Ia menenteng seember air untuk disiramkan ke bungkusan-bungkusan grajen yang telah ia rebus dan telah ditata rapi di rak-rak kayu. “Biar lembab, sebab kalau kering jamur tak bisa tumbuh cepat,” cetusnya. Selesai menyiram, Sumisih tak membuang-buang waktu, karena beberapa lembar jamur tampak sudah siap panen. Ia pun memetiknya dengan hati-hati, agar grajen tak turut tercerabut bersama akar jamur. Sambil tersenyum, wanita yang aktif di kegiatan PKK desa setempat itu, menaruh hasil panennya di tempat yang ia sediakan untuk proses pembungkusan.Ya, Sumisih adalah satu dari lima orang yang sudah dua tahun membudidayakan jamur yang diberi nama “jamur tiram” di rumahnya yang sederhana. Awalnya, wanita ini memperoleh ilmu budi daya jamur tiram itu dari kakaknya Utomo (34) yang saat ini bekerja di Jakarta.12 JamSumisih pagi itu menceritakan proses produksi jamur yang bisa dipanen dalam waktu 12 jam itu.Bahan baku budidaya jamur tiram adalah grajen kayu Sono yang warnanya cokelat kehitam-hitaman. Di Jepara, terutama di Kecamatan Mlonggo, Bangsri, Kembang, dan Keling tidak sulit didapat. Hal itu dimaksudkan untuk menghasilkan jamur yang berkualitas bagus. Namun pada dasarnya, grajen kayu lainnya seperti kayu randu juga bisa. Jika sore hari sudah tumbuh tunas jamur, maka pagi hari sekitar pukul 05.00 sudah bisa dipanen. Dalam waktu kurang lebih 12 jam, lembaran jamur sudah berdiameter 8-10 cm. “Jadi kami tiap hari bisa panen,” katanya.Penghasilan yang didapat cukup lumayan. Hanya bekerja maksimal 3-4 jam/hari, setiap orang bisa mendapatkan Rp 12.000. “Kalau bos nya bisa Rp 30.000/ hari, tuturnya.Ia menjual jamur itu ke pasar-pasar. Bahkan, ada yang kulak dengan cara datang langsung ke rumahnya


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: