<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sashaoyster's &#187; Teknik Budidaya Jamur Tiram</title>
	<atom:link href="http://sashaoyster.wordpress.com/category/teknik-budidaya-jamur-tiram/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sashaoyster.wordpress.com</link>
	<description>Mari berbisnis Jamur.....</description>
	<lastBuildDate>Sat, 09 Feb 2008 06:06:18 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='sashaoyster.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/844db225bba4a1e78d19e4969775a5ea?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sashaoyster's &#187; Teknik Budidaya Jamur Tiram</title>
		<link>http://sashaoyster.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Pijakan Anyar Jamur Tiram</title>
		<link>http://sashaoyster.wordpress.com/2008/01/23/pijakan-anyar-jamur-tiram/</link>
		<comments>http://sashaoyster.wordpress.com/2008/01/23/pijakan-anyar-jamur-tiram/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jan 2008 02:53:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sashaoyster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknik Budidaya Jamur Tiram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sashaoyster.wordpress.com/2008/01/23/pijakan-anyar-jamur-tiram/</guid>
		<description><![CDATA[Truk pengangkut jerami padi itu berhenti di depan kumbung jamur. Seorang pekerja bergegas mengangkat dan mencelupkan jerami ke drum berisi air panas. Lima detik kemudian, ia mengangkat jerami dan menebarkan di atas jaring kawat. Setelah tiris, ia menambahkan 300 g dedak dan 40 g kapur pada 2 kg batang padi kering itu yang dimasukkan ke [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sashaoyster.wordpress.com&blog=2541473&post=17&subd=sashaoyster&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="line-height:15.6pt;margin:0;" class="MsoNormal"><i><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Georgia;">Truk pengangkut jerami padi itu berhenti di depan kumbung jamur. Seorang pekerja bergegas mengangkat dan mencelupkan jerami ke drum berisi air panas. Lima detik kemudian, ia mengangkat jerami dan menebarkan di atas jaring kawat. Setelah tiris, ia menambahkan 300 g dedak dan 40 g kapur pada 2 kg batang padi kering itu yang dimasukkan ke dalam plastik ukuran 5 kg.</span></i></p>
<p><i><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Georgia;"></span></i><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;"></span> </p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Georgia;">Jerami padi itu lazim dimanfaatkan sebagai media tumbuh jamur merang <i>Volvariella volvacea</i>. Namun, Adi Yuwono, pekebun di Ciwidey, Kabupaten Bandung, menggunakannya sebagai media jamur tiram. &#8216;Merang itu pengganti serbuk gergaji kayu,&#8217; kata Adi Yuwono. Penggunaan media itu memang kontras. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;"></span> </p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Georgia;">Sebagai jamur kayu, tiram biasanya tumbuh di atas media serbuk gergaji kayu tertentu. Ide menggunakan jerami untuk media tanam tiram terlintas ketika Adi pulang kerja melalui Soreang-Ciwidey.Di </span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Georgia;">sana</span><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Georgia;"> memang terdapat tumpukan jerami. Sarjana Pertanian alumnus Universitas Islam Nusantara itu yakin merang kaya serat dan selulosa seperti serbuk kayu. Ia menguji coba media tanam &#8216;baru&#8217; itu dengan menanam bibit tiram di 100 baglog jerami. Hasilnya? Total produksi sebuah baglog berbobot 1,2 kg itu mencapai 275 g. Baglog itu berproduksi selama 6 bulan. Itu berarti produktivitas tiram bermedia jerami sama dengan tiram bermedia serbuk gergaji. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;"></span> <b><i><span style="font-size:10pt;color:green;font-family:Georgia;">Tingkatkan laba</span></i></b><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Georgia;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;"></span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Georgia;">Selain memanfaatkan jerami baru, pekebun juga dapat menggunakan media bekas penanaman jamur merang. Caranya dengan menebar media itu di atas permukaan lantai untuk mengurangi kadar air. Kadar air berlebihan memicu tumbuhnya cendawan patogen. Setelah itu Adi menambahkan 15-25% serbuk gergaji dari total jumlah kompos, 2,5% bekatul, 1-1,5% kalsium karbonat atau kapur, 0,5% gips, dan 0,25% pupuk TS. Pemanfaatan &#8216;limbah&#8217; jamur merang sebagai media jamur tiram itu menghasilkan produksi tinggi, 121 g/baglog. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;"></span> </p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Georgia;">Selain produktivitas tinggi, kelebihan penggunaan jerami antara lain diperoleh tanpa membayar sepeser pun. Sebab, jerami merupakan limbah yang biasanya teronggok di tepi sawah. Makanya, biaya yang dikeluarkan hanya ongkos pengangkutan yang sama dengan pengangkutan serbuk gergaji. Hasilnya, &#8216;Bisa menghemat 50% biaya produksi,&#8217; kata ayah 2 anak itu. Jika media serbuk gergaji kayu membutuhkan biaya Rp700/baglog, jerami padi hanya Rp350/baglog. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;"></span> </p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Georgia;">Pengurangan biaya produksi sangat penting. Sebab, ada saatnya harga jual jamur tiram cenderung stagnan bahkan turun. Jika menjelang puasa dan lebaran jamur tiram mencapai Rp7.000-Rp8.000/kg; hari biasa harganya anjlok menjadi Rp5.000-Rp5.500. Media serbuk kayu komponen biaya tertinggi dalam produksi. Oleh karena itu, Adi rajin mencari dan menoba berbagai media alternatif. Melalui pencarian literatur di dunia maya, diketahui universitas di Korea Selatan telah menggunakan jerami padi sebagai media oyster mushroom itu. Hasil percobaan membuktikan media merang meningkatkan 100% produktivitas dibanding media serbuk gergaji. Karena tertarik, Adi langsung mengaplikasikannya. Pada saat yang sama, Adi juga membuat baglog bermedia jerami berbentuk mirip baglog konvensional. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;"></span> </p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Georgia;">Dua kilogram jerami dikomposkan terlebih dahulu selama tiga hari. Setelah itu dicampur dedak 250 g, kapur 200 g, dan dipadatkan dalam plastik baglog. Sayang, produktivitasnya hanya 121 g/baglog. Itu pun hanya bisa dipakai satu kali produksi. Sudah begitu, jerami yang dipadatkan punya banyak kelemahan. Dari segi teknologi, butuh alat pengempa agar padat. &#8216;Alatnya mirip pengempa batubara, berbeda dengan alat pengempa serbuk kayu,&#8217; kata Adi. Di lain pihak, plastik yang digunakan mesti tebal agar tidak cepat bocor akibat penekanan. Selain itu, penumpukan jerami saat pengomposan menyebabkan serangga mudah hinggap dan meletakkan telur. Akibatnya, pertumbuhan jamur terhambat dan produktivitasnya rendah. Kelemahan lain, telat panen. Jika sistem konvensional pin head keluar setelah 15-17 hari dari masa inkubasi 30 hari. Jamur tiram dengan media jerami dipadatkan butuh waktu 30 hari pinhead keluar dari baglog. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;"></span> <b><i><span style="font-size:10pt;color:green;font-family:Georgia;">Banyak media </span></i></b><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;"></span></p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Georgia;">Hasil penelusuran Trubus di dunia maya, penggunaan merang sebagai media jamur tiram telah diteliti Ruihong Zhang dari <i>Biological and Agricultural Engineering Department, University of California</i>, Amerika Serikat sejak 2001. Sejak itu, bermunculan penelitian penggunaan berbagai media pengganti serbuk gergaji. Media lain seperti daun pisang, tongkol jagung, klobot jagung, dan gabah padi diteliti Obodai Mcleland-Okine dari <i>Food Research Institute</i>, Ghana. Hasilnya, daun pisang, tongkol jagung, klobot jagung, dan gabah padi dapat memproduksi jamur tiram 111,5 g, 87,8 g, 49,5 g, dan 23,3 g sekali produksi. Masing-masing bahan bisa digunakan 2-3 kali per baglog. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;"></span> </p>
<p style="line-height:15.6pt;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Georgia;">Hasil itu memang kecil dibandingkan menggunakan serbuk gergaji yang mencapai 183,1 g dan jerami padi 151,8 g. Penyebabnya, jumlah lignoselulosa, lignin, dan serat pada serbuk gergaji dan merang lebih tinggi. Media tiram lain diteliti E Peker dari <i>Faculty of Technical Education, Mugla University</i>, Turki. Ia menggunakan media limbah kertas ditambah gambut, kotoran ayam, dan gabah. Campuran itu terbukti mempercepat pertumbuhan miselium, hanya 15,8 hari; serbuk gergaji mencapai 30,4 hari. Tudung pun diperoleh pada hari ke 21,4, dan sempurna setelah 25,6 hari dengan produktivitas 350,2 g. Menurut E Peker, besarnya tudung dan kecepatan tumbuh dipengaruhi tingginya nutrisi asal 20% gabah. Lain lagi hasil penelitian Raul J. H. Castro-Gomez dari <i>Biotechnology Prog, Universidade Estadual de Londrina</i>, Brazil. Penggunaan ampas tebu sebagai media jamur dapat mempercepat pertumbuhan jamur dibandingkan media lain. Penyebabnya, ampas tebu mengandung veratil alkohol yang menstimulasi peningkatan tumbuh jamur. Tanpanya, produktivitas turun 50% dan waktu 30% lebih panjang. &#8216;Hampir semua limbah pertanian berpotensi menjadi media jamur tiram,&#8217; kata Adi Yuwono. Dengan begitu biaya produksi dapat ditekan dan melambungkan keuntungan petani.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Georgia;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Georgia;"></span> <span style="font-size:10pt;color:black;font-family:Georgia;">Sumber: Trubus, Desember 2007</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sashaoyster.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sashaoyster.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sashaoyster.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sashaoyster.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sashaoyster.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sashaoyster.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sashaoyster.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sashaoyster.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sashaoyster.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sashaoyster.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sashaoyster.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sashaoyster.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sashaoyster.wordpress.com&blog=2541473&post=17&subd=sashaoyster&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sashaoyster.wordpress.com/2008/01/23/pijakan-anyar-jamur-tiram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5c58b52a7236a180d7af4d11a1d2df01?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sasha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BUDIDAYA TANAMAN JAMUR TIRAM</title>
		<link>http://sashaoyster.wordpress.com/2008/01/17/budidaya-tanaman-jamur-tiram/</link>
		<comments>http://sashaoyster.wordpress.com/2008/01/17/budidaya-tanaman-jamur-tiram/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jan 2008 06:52:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sashaoyster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknik Budidaya Jamur Tiram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sashaoyster.wordpress.com/2008/01/17/budidaya-tanaman-jamur-tiram/</guid>
		<description><![CDATA[I.  SYARAT PERTUMBUHAN
 1.1.      Iklim a)   Secara alami, jamur tiram Pleurotus ditemukan di hutan dibawah pohon berdaun lebar atau di bawah tanaman berkayu. Jamur tiram tidak memerlukan cahaya matahari yang banyak dan remang-remang, di tempat terlindung miselium jamur akan tumbuh lebih cepat daripada di tempat yang terang dengan cahaya matahari berlimpah.b)   Kelembaban ruangan optimal 90-96% yang harus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sashaoyster.wordpress.com&blog=2541473&post=7&subd=sashaoyster&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h1><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:'Times New Roman';letter-spacing:1pt;text-shadow:auto;">I.<span>  </span>SYARAT PERTUMBUHAN</span></h1>
<p><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><b><span style="color:green;text-shadow:auto;"><font size="2"><font face="Times New Roman">1.1.<span>      </span>Iklim</font></font></span></b><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">a)<span>   </span>Secara alami, jamur tiram <i>Pleurotus</i> ditemukan di hutan dibawah pohon berdaun lebar atau di bawah tanaman berkayu. Jamur tiram tidak memerlukan cahaya matahari yang banyak dan remang-remang, di tempat terlindung miselium jamur akan tumbuh lebih cepat daripada di tempat yang terang dengan cahaya matahari berlimpah.</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">b)<span>   </span>Kelembaban ruangan optimal 90-96% yang harus dipertahankan dengan menyemprotkan air secara teratur.</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">c)<span>   </span>Suhu udara untuk pertumbuhan miselia adalah <b>23-28 derajat C</b> dan untuk pertumbuhan tubuh buah adalah 13-15 derajat C.</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><b><span style="color:green;text-shadow:auto;"><font size="2"><font face="Times New Roman">1.2.<span>      </span>Media Tanam</font></font></span></b><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Secara tradisional, di Jepang, bibit ditanam di dalam lubang atau garisan di kayu kering. Pengeringan dilakukan dengan tenaga sinar matahari atau listrik. Dalam budidaya modern, media tumbuh berupa <i>kayu tiruan</i> (<i>log</i>) yang dibuat dalam bentuk silinder. Komposisi media ini berupa sumber kayu (gergaji kayu, ampas tebu), sumber gula (tepung-tepungan), kapur, pupuk P dan air. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><b><span style="color:green;text-shadow:auto;"><font size="2"><font face="Times New Roman">1.3.<span>      </span>Ketinggian Tempat</font></font></span></b><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Kondisi di atas lebih mudah dicapai <b>di daerah dataran tinggi sekitar 700-800 m dpl</b>. Kemungkinan budidaya jamur di dataran rendah tidaklah mustahil asalkan iklim ruang penyimpanan dapat diatur dan disesuaikan dengan keperluan jamur. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span></p>
<h1><span style="font-size:11pt;color:navy;font-family:'Times New Roman';letter-spacing:1pt;text-shadow:auto;">II.<span>  </span>PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA</span></h1>
<p><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><b><span style="color:green;text-shadow:auto;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.1.<span>      </span>Pembibitan</font></font></span></b><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:green;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.1.1.<span>    </span>Sumber Bibit</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">a)<span>   </span>Sumber alami</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Dipakai untuk media tradisional. Batang kayu yang telah ditumbuhi jamur dilembabkan, kemudian dirajang sepanjang 5-10 cm dan lebar 1-2 cm. Potongan disebarkan ke batang kayu lain yang dijadikan media tumbuh. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">b)<span>   </span>Spora</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Spora terbentuk di tudung/payung bagian bawah. Tudung/payung yang berumur 3 hari dihancurkan di dalam air bersih. Cara penggunaan cairan ini ada 2 macam: (1) cairan ini dapat digunakan langsung sebagai bibit; (2) cairan disiramkan ke media yang tersusun dari serbuk gergaji dan kukusan jagung/padi. Setelah diinapkan beberapa hari, miselium akan tumbuh menyelimuti media dan siap digunakan.</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">c)<span>   </span>Biakan murni</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Cara ini menghasilkan bibit berkualitas. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">1.<span>   </span>Siapkan media<i> Potato Dextrose Agar</i> (PDA) yang terdiri atas ekstrakt kentang 1 liter (1 kg kentang digodog dengan 1 liter air, lalu disaring), gula dekstrosa 20 gram, ekstrak ragi 5 gram (dapat diganti dengan 400 ml air ragi tetapi air kentang jadi 600 ml) dan agar-agar batang 20%. Media lain yang bahan mudah didapat terdiri atas 1/4 kg kentang, 1/4 kg bawang bombay, 1/4 kg aci, 1 sendok makan gips dan 3 bungkus agar-agar kecil. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Panaskan campuran media tersebut untuk melarutkan agar-agar. Masukkan 15 cc media ke dalam tabung reaksi 25 cc kemudian disterilkan dalam autoklaf pada temperatur 121 derajat C, tekanan 1,5 selama 15 menit atau dengan dikukus pada temperatur 100 derajat C<span>  </span>selama 8 jam.</font></font></span><span style="color:teal;font-family:'Times New Roman';"><font size="2">Biarkan media PDA sampai hangat tetapi masih cair. Buka sedikit cawan petri bagian atas, masukkan segera media ke dalam cawan petri steril secara aseptik. Tutup cawan petri dengan cepat. Setelah agar membeku, balikkan posisi cawan petri. Media ini disebut dengan media lempeng agar.</font></span><span style="color:teal;font-family:'Times New Roman';"><font size="2">2.<span>   </span>Ambil tubuh buah berumur 3 hari (diameter sekitar 10 cm) yang sehat, mulus dan bagian sisinya tidak berkerut. Lepaskan stipe/bilah di bagian bawah tubuh buah. Ambil potongan bilah dengan pinset steril dan letakkan di tengah media lempeng agar yang telah disiapkan. </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Inkubasikan media di dalam inkubator pada temperatur 28 derajat C. Pada hari ke 2, miselium mulai tumbuh dan pada hari ke 5 seluruh permukaan media tertutupi miselium. Biakan murni ini disebut dengan bibit F1. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">3.<span>   </span>Pengerjaan seluruh proses di atas harus aseptik/bersih untuk menghindari tumbuhnya jamur yang tidak dikehendaki. Sebelum digunakan alat-alat berupa pisau atau pinset harus dibakar di atas api. Sebaiknya pengerjaan dilakukan di dalam <i>laminar flow</i> atau <i>transfer box</i> yang dijamin kebersihannya. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">4.<span>   </span>Pembiakan murni jamur tiram ini sudah dibuat di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Pertanian Unpad, Jurusan Biologi ITB dan PAU Mikrobiologi ITB. Bibit jamur murni bisa disimpan sampai 6 bulan pada temperatur sekitar 4 derajat C. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:green;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.1.2.<span>    </span>Pembuatan Bibit Jamur F2</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><font size="2"><font face="Times New Roman"><span style="color:teal;">Bahan-bahan untuk media bibit F2 adalah:</span><span style="font-size:8pt;color:teal;"></span></font></font><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">a)<span>      </span>Jagung tumbuk atau padi bergabah = 60%.</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">b)<span>      </span>Serbuk gergaji = 38%.</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">c)<span>      </span>Kapur = 0,5-1%.</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">d)<span>      </span>Gips = 0,1-1%.</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Sebelum dicampurkan, jagung tumbuk/padi direndam semalam dan dikukus 2 jam sampai mekar. Media dimasukkan ke dalam toples bekas jam.</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Satu lempeng agar bibit F1 dibagi menjadi delapan bagian. 1 bagian dimasukkan ke dalam media di atas dengan miselium menempel pada media. Setelah 2-4 minggu seluruh media ditumbuhi miselium dan siap ditanam ke <i>log</i>.</font></font></span><span style="color:green;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:green;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.1.3.<span>    </span>Pembuatan Bibit Jamur F3</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Walaupun bibit F2 lebih baik daripada F3, banyak petani jamur yang menggunakan bibit F3 untuk ditanamkan ke dalam <i>log</i>. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Media untuk bibit F3 berupa <i>log</i> dengan komposisi media dan cara pembuatan yang sama dengan <i>log</i> produksi, hanya ukuran plastiknya sekitar 1 kg. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Bibit F3 dibuat dengan menambahkan 2 sendok makan bibit F2 ke bagian atas <i>log</i>, lalu diinkubasikan selama 1 bulan sampai miselium memenuhi seluruh permukaan <i>log</i>. Bibit F3 siap ditanamkan ke <i>log</i> produksi. Pekerjaan ini harus dilakukan dengan steril di dalam <i>laminar flow </i>atau<i> transfer box. </i></font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><b><span style="color:green;text-shadow:auto;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.2.<span>      </span>Pengolahan Media Tanam</font></font></span></b><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:green;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.2.1.<span>    </span>Persiapan</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Untuk 80 log diperlukan bahan-bahan seperti di bawah ini:</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">a)<span>   </span>Serbuk gergaji atau ampas tebu halus=100 kg</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">b)<span>   </span>Tepung jagung=10 kg</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">c)<span>   </span>Dedak halus=10 kg</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">d)<span>   </span>Pupuk SP36=0,5 kg</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">e)<span>   </span>Gips=0,5 kg</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">f)<span>    </span>Air=50-60%</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Bahan-bahan kecuali air dicampur merata, tambahkan air sampai media dapat dikepal. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:green;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.2.2.<span>    </span>Pembuatan <i>Log</i></font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Media dimasukkan ke dalam kantong plastik tahan panas kapasitas 1,5-2 kg sampai Media harus dipadatkan agar terbentuk <i>log</i> yang baik. Ikat mulut plastik dengan karet tahan panas dan sterilkan. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:green;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.2.3.<span>    </span>Sterilisasi <i>Log</i></font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Sterilisasi perlu dilakukan agar media bebas dari mikroba lainnya. Terdapat dua cara sterilisasi yaitu: </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">a)<span>   </span>Sterilisasi pada temperatur 100<sup> </sup>derajat C selama 8 jam dengan cara mengukus. Biasanya digunakan drum kapasitas 50 <i>log</i> yang dipanaskan dengan kompor minyak tanah. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">b)<span>   </span>Sterilisasi pada temperatur 121<sup> </sup>derajat C selama 15 menit dengan menggunakan otoklaf atau dandang bertekanan uap. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><b><span style="color:green;text-shadow:auto;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.3.<span>      </span>Teknik Penanaman</font></font></span></b><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:green;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.3.1.<span>    </span>Penanaman Bibit</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Buka bagian atas <i>log</i> yang telah disterilkan. Hamparkan 1-2 sendok makan bibit jamur F3 atau F2. Gunakan sendok yang telah dipanaskan di atas api. Rapatkan kembali plastik bagian atas. Masukkan cincin dari bambu berdiameter 3 cm dan tinggi 1 cm ke dalam plastik yang dirapatkan tersebut. Isi lubang yang terbentuk dengan kapas. Tutup kapas beserta cincin dengan kertas koran dan ikat.</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:green;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.3.2.<span>    </span>Penyimpanan <i>Log</i></font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Jika kita akan menyimpan <i>log</i> di dalam bangunan<span>  </span>maka masa tanam jamur tiram tidak diatur oleh kondisi iklim dan dapat dilakukan setiap saat. </font></font></span><b><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span></b><font size="2"><font face="Times New Roman"><i><span style="color:teal;">Log</span></i><span style="color:teal;"> yang sudah ditanami bibit harus disimpan di tempat yang menunjang pertumbuhan<span>  </span>miselium dan tubuh buah. Bangunan untuk menyimpan <i>log</i> dapat dibuat permanen untuk budidaya jamur skala besar atau di dalam bangunan semi permanen.</span></font></font><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Tempat pemeliharaan jamur dibuat dengan ukuran 10 x 12 m<sup>2</sup> yang di dalamnya terdapat 8 buah petak pemeliharaan berukuran 5,7 x 2,15 m<sup>2</sup>. Jarak antar petak 40-60 cm. Di dalam setiap petak dibuat rak-rak yang tersusun ke atas untuk menyimpan 1.300-1.400 <i>log</i>. Rangka bangunan dapat dibuat dari besi, kayu atau bambu. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Kondisi lingkungan yang harus diperhatikan dalam membuat bangunan penyimpanan adalah:</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">a)<span>   </span>Temperatur untuk pembentukan miselium adalah 23-28 derajat C</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">b)<span>   </span>Temperatur untuk pembentukan tubuh buah adalah 13-15 derajat C</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">c)<span>   </span>Kelembaban udara 90-96%</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">d)<span>   </span>Kadar air <i>log</i> 35-45%</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">e)<span>   </span>Udara di dalam tidak tercemari asap/gas.</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><font size="2"><font face="Times New Roman"><i><span style="color:teal;">Log</span></i><span style="color:teal;"> disimpan di atas rak dengan posisi tegak atau miring. Jarak penyimpanan diatur sedemikian rupa sehingga tubuh buah yang tumbuh dari satu <i>log</i> tidak bertumpang tindih dengan tubuh buah yang lain. </span></font></font><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><b><span style="color:green;text-shadow:auto;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.4.<span>      </span>Pemeliharaan Tanaman</font></font></span></b><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:green;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.4.1.<span>    </span>Pemeliharaan Log</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><font size="2"><font face="Times New Roman"><i><span style="color:teal;">Log</span></i><span style="color:teal;"> yang akan membentuk miselium dan tubuh buah harus dipelihara. Pemeliharaan berhubungan dengan menjaga lingkungan agar tetap optimum</span></font></font><span style="color:teal;font-family:'Times New Roman';"><font size="2">a)<span>   </span>Kandungan air yang baik 35-45%. Kekurangan air menyebabkan miselium tidak membentuk tubuh buah karena kekeringan dan kelebihan air menyebabkan tumbuhnya jenis jamur lain yang tidak diinginkan. </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">b)<span>   </span>Cahaya. Perkembangan miselium dan tubuh buah akan terhambat dengan adanya cahaya langsung. Tempat penyimpanan harus tetap teduh dan sinar matahari tidak masuk secara langsung ke dalam ruangan.</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:green;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.4.2.<span>    </span>Pembentukan Miselium dan Tubuh Buah</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">a)<span>   </span>Penumbuhan Miselium.</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Miselium akan tumbuh memenuhi permukaan <i>log</i> setelah penyimpanan selama kurang lebih 1 bulan. Selama jangka waktu tersebut, temperatur dan kelembaban harus optimal. Pengaturan temperatur dan kelembaban dapat dilakukan dengan cara:</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">1.<span>   </span>Menyemprotkan air dengan sprayer ke dinding-dinding bangunan penyimpanan dan ke ruang di antara jajaran <i>log</i>. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.<span>   </span>Menyemprotkan air dengan sprinkel bernozel halus.</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">b)<span>   </span>Pembentukan tubuh buah pertama.</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Setelah miselium tumbuh sempurna, lepaskan cincin <i>log</i> dan buka plastik bagian atas sehingga seluruh permukaan atas <i>log</i> kontak dengan udara. Pada waktu ini diperlukan <i>raising</i> yaitu pengaturan lingkungan agar tubuh buah tumbuh. <i>Raising</i> dilakukan dengan:</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">1.<span>   </span>Menurunkan temperatur ruang menjadi 13-15 derajat C dengan menggunakan pengatur temperatur (Air Conditioning) atau menyemprotkan air dengan nozel halus secara intensif.<i></i></font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.<span>   </span>Menurunkan temperatur dan sekaligus menyemprotkan bahan yang mengandung hormon pertumbuhan ke permukaan <i>log</i> yang kontak dengan udara. Air kelapa atau ekstrakt toge dapat dipakai sebagai sumber hormon tsb. Dengan cara ini pertumbuhan tubuh buah akan mencapai dua kali lipat dibandingkan cara pertama. Tubuh buah pertama terbentuk setelah 3-5 hari pembukaan. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">c)<span>   </span>Pembentukan tubuh buah selanjutnya</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Setelah tubuh buah pertama dipanen, turunkan bukaan plastik sampai ½ bagian <i>log</i>. Kadang-kadang calon bakal buah sudah tumbuh di bawah plastik yang belum terbuka. Bagian plastik tersebut harus dilubangi untuk memberi kesempatan tubuh buah keluar dan tumbuh. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Pembukaan <i>log</i> sebaiknya tidak dilakukan sekaligus, terutama pada budidaya skala besar. Jarak pembukaan satu kelompok <i>log</i> dengan kelompok lainnya ditentukan sedemikian rupa sehingga setiap hari ada tubuh buah yang dipanen. Pembukaan <i>log</i> yang bertahap akan menjamin kelangsungan produksi. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><b><span style="color:green;text-shadow:auto;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.5.<span>      </span>Hama dan Penyakit</font></font></span></b><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:green;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.5.1.<span>    </span>Hama</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Hama yang banyak terdapat di tempat budidaya jamur adalah serangga baik berupa kumbang atau kutu. Pencegahan dengan sanitasi lingkungan atau, alternatif<span>  </span>terakhir, penyemprotan insektisida. Perlu diingat bahwa residu insektisida akan menempel di tubuh buah sehingga jamur yang dipanen harus dicuci bersih di air mengalir. Pencucian dapat menyebabkan penurunan kualitas jamur kalau kelebihan air tidak langsung dihilangkan dengan cara ditiriskan.</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:green;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.5.2.<span>    </span>Penyakit</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Penyebab timbulnya penyakit adalah sterilisasi yang tidak sempurna, bibit yang tidak murni, alat yang kurang bersih dan kandungan air media terlalu tinggi.</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Penyakit berupa tumbuhnya jamur lain seperti <i>Mucor, Rhiozopus, Penicillium</i> dan <i>Aspergillus</i> pada <i>log</i>. Serangan jamur-jamur tersebut dicirikan dengan timbulnya miselium yang berwarna hitam, kuning atau putih dan timbulnya lendir. Pertumbuhan jamur tiram menjadi terhambat atau tidak tumbuh sama sekali. Serangan dapat terjadi di <i>log</i> yang belum atau sudah dibuka. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Pengendalian dilakukan dengan memperbaiki kultur teknis dan meningkatkan kebersihan lingkungan pada saat pembuatan media dan bibit serta lingkungan bangunan penyimpanan. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><b><span style="color:green;text-shadow:auto;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.6.<span>      </span>Panen</font></font></span></b><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:green;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.6.1.<span>    </span>Ciri dan Umur Panen</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Jamur tiram <i>Pleurotus</i> adalah jamur yang rasanya enak dan memiliki aroma yang baik jika dipanen pada waktu umur muda. Panen dilakukan setelah tubuh buah mencapai ukuran maksimal pada 2-3 hari setelah tumbuh bakal tubuh buah. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:green;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.6.2.<span>    </span>Cara Panen</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Pengambilan jamur harus dilakukan dari pangkal batang karena batang yang tersisa dapat menimbulkan busuk. Potong jamur dengan pisau yang besih dan tajam dan simpan di wadah plastik dengan tumpukan setinggi 15 cm. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:green;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.6.3.<span>    </span>Periode Panen</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Panen dilakukan setiap hari atau beberapa hari sekali tergantung dari jarak pembukaan <i>log</i>-<i>log</i>. Dari satu <i>log</i> akan dihasilkan sekitar 0,8-1 kg jamur. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><b><span style="color:green;text-shadow:auto;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.7.<span>      </span>Pascapanen</font></font></span></b><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:green;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.7.1.<span>    </span>Penyortiran</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Setelah dipanen, batang tubuh buah dipotong. Pisahkan jamur yang rusak dari jamur yang baik, pisahkan pula jamur sesuai dengan ukurannya. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:green;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.7.2.<span>    </span>Penyimpanan</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Setelah penyortiran, buang kotoran pada jamur tanpa mencucinya. Simpan di dalam wadah bersih dan tempatkan di kamar dengan temperatur 15<sup> </sup>derajat C. Jamur dapat tetap segar selama 5 x 24 jam. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Sebelum pengemasan, jamur dapat disemprot dengan larutan natrium bisulfit 0,1-0,2% yang menghambat pembusukan</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:green;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.7.3.<span>    </span>Pengemasan</font></font></span><span><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">Pengemasan dilakukan dalam:</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">a)<span>   </span>Kantung plastik</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">b)<span>   </span>Kantung plastik yang divakum (udara dikeluarkan)</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">c)<span>   </span>Wadah plastik putih dan ditutup dengan plastik lembaran tipis.</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:green;"><font size="2"><font face="Times New Roman">2.7.4.<span>    </span>Penanganan Lain</font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2" face="Times New Roman"> </font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">a)<span>   </span>Pengeringan. Jamur direndam dalam air bersih, atau cuci dengan air mengalir lalu diiris tipis atau dibiarkan seperti adanya. Masukkan ke dalam air mendidih sebentar, lalu tiriskan. Keringkan jamur di dalam oven listrik/ minyak tanah. </font></font></span><span style="color:teal;"><font size="2"><font face="Times New Roman">b)<span>   </span>Penambahan senyawa pengawet. Jamur utuh dibersihkan dari kotoran jika perlu dengan air mengalir. Rendam dalam asam sitrat 0,1% selama 5 menit. Cuci dengan air mengalir. Masukkan ke dalam larutan yang terdiri atas garam dapur (15%), garam sitrat (0,5%), SO<sub>2</sub> (1%), kalium bikarbonat (0,1%) dan kalium metabisulfida (&lt;1%) selama 10-15 menit.<span>  </span>Tiriskan kembali. Jamur akan awet selama 2 minggu tanpa pengepakan dan 1 bulan bila langsung dipak cara vakum. </font></font></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sashaoyster.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sashaoyster.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sashaoyster.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sashaoyster.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sashaoyster.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sashaoyster.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sashaoyster.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sashaoyster.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sashaoyster.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sashaoyster.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sashaoyster.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sashaoyster.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sashaoyster.wordpress.com&blog=2541473&post=7&subd=sashaoyster&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sashaoyster.wordpress.com/2008/01/17/budidaya-tanaman-jamur-tiram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5c58b52a7236a180d7af4d11a1d2df01?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sasha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CARA PRAKTIS BUDIDAYA JAMUR TIRAM</title>
		<link>http://sashaoyster.wordpress.com/2008/01/17/cara-praktis-budidaya-jamur-tiram/</link>
		<comments>http://sashaoyster.wordpress.com/2008/01/17/cara-praktis-budidaya-jamur-tiram/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jan 2008 06:41:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sashaoyster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknik Budidaya Jamur Tiram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sashaoyster.wordpress.com/2008/01/17/cara-praktis-budidaya-jamur-tiram/</guid>
		<description><![CDATA[Ada teknologi yang cukup praktis untuk budidaya jamur tiram Pleurotus spp, yakni tahapan membuat media bibit induk (spawn) dan tahanan memproduksi jamur tiramnya. Pada tahanan membuat media bibit induk ada 10 langkah yang perlu dilakukan. Pertama, bahan medianya yang berupa biji-bijian atau campuran serbuk gergajian albusia (SKG) ditambah biji millet 1 (42%) : 1 (42%). [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sashaoyster.wordpress.com&blog=2541473&post=6&subd=sashaoyster&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><font face="Times New Roman">Ada teknologi yang cukup praktis untuk budidaya jamur tiram Pleurotus spp, yakni tahapan membuat media bibit induk (spawn) dan tahanan memproduksi jamur tiramnya. Pada tahanan membuat media bibit induk ada 10 langkah yang perlu dilakukan. Pertama, bahan medianya yang berupa biji-bijian atau campuran serbuk gergajian albusia (SKG) ditambah biji millet 1 (42%) : 1 (42%). Bahan baku ini adalah yang terbaik.</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Langkah kedua, bahan baku dicuci dan direbus selama 30 menit menggunakan pressure cooker atau panci. Langkah ketiga, bahan baku tersebut ditiriskan dengan ayakan. Tambahkan 1% kapur (CaCl3), 1% gypsum (CaSO4), vitamin B kompleks (sangat sedikit) dan atau 15 persen bekatul. Kadar air 45-60 % dengan penambahan air sedikit dan pH 7.</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Langkah keempat, bahan baku tersebut lalu didistribusikan ke dalam baglog polipropilen atau botol susu atau botol jam pada hari itu juga. Perbotol diisi 50-60% media bibit, disumbat kapas/kapuk, dibalut kertas koran/alumunium foil. Langkah kelima, sterilisasi dalam autoclav selama 2 jam atau pasteurisasi 8 jam pada hari itu juga. Temperatur autoclave 121 derajat C, tekanan 1 lb, selama 2 jam. Temperatur pasteurisasi 95 derajat C.</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Langkah keenam, lakukan inokulasi dengan laminar flow satu hari kemudian. Setelah suhu media bibit turun sampai suhu kamar dilakukan inokulasi bibit asal biakan murni pada media PDA (sebanyak 2-3 koloni miselium per botol bibit). Langkah ketujuh, inkubasi (pertumbuhan miselium 15-21 hari) pada ruang inkubasi/inkubator, suhu 22-28 derajat C.</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Langkah kedelapan, botol atau baglog isi bibit dikocok setiap hari, dua hingga tiga kali. Hal ini dilakukan agar pertumbuhan miselium bibit jamur merata dan cepat serta media bibit tidak menggumpal/mengeras. Kesembilan, bibit induk dipenuhi miselium jamur dengan ciri pertumbuhan miselium jamur kompak dan merata.</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Langkah terakhir, jamur tersebut digunakan sebagai inokulan/bibit induk/bibit sehat perbanyakan ke 1 dan ke 2. Bibit ini disimpan dalam lemari pendingin selama 1 tahun, bila tidak akan segera digunakan.</font><font face="Times New Roman">Tahap selanjutnya adalah memproduksi jamur tiram (Pleurotus spp). Dalam tahapan ini juga ada 10 langkah. Pertama, siapkan serbuk kayu gergajian albasia. Rendam selama 0-12 jam (bergantung pada spesies/strain serbuk kayu yang digunakan). Langkah kedua, tiriskan sampai tidak ada air, pada hari itu juga dengan mengunakan saringan kawat atau ayakan kawat.</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Langkah ketiga, membuat subtrat/media tumbuh, pada hari itu juga. Tambahkan 5-15 % bekatul atau polar (bergantung pada spesies/strain yang digunakan), 2% kapur (CaCO3), 2% gypsum (CaSO4) dan air bersih, diaduk merata, kadar air substrat 65%, pH 7.</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Langkah keempat, distribusikan kedalam baglog polipropilen pada ahri itu juga. Padatkan dalam wadah tersebut, beri lubang bagian tengah, dipasang mulut cincin pralon, kemudian ditutup dengan kapas/kertas minyak. Langkah kelima, sterilisasi/pasteurisasi, satu hari kemudian. Simpan dalam kamar uap atau kukus dalam drum dengan suhu media di dalam baglog 95-120 derajat C selama 1-3 kali 8 jam bergantung pada jumlah substrat yang akan di pasteurisasi. Langkah keenam, inokulasi substrat dengan spawn di ruang inokulasi. Setelahsuhu baglog substrat turun sampai suhu kamar, inokulasikan bibit pada substrat dalam laminar flow. Bibit 10-15gr/kg substrat.</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Langkah ketujuh, inkubasi baglog substrat (pertumbuhan miselium 15-30 hari). Rumah jamur/kubung/ruang inkubasi dijaga tetap kering dan bersih, suhu 22-28 derajat C tanpa cahaya. Langkah kedelapan, baglog substrat dibuka cincin dibuka (7-15 hari kemudian). Cara membuka berbeda-beda, tergantung jenis jamur kayu yang digunakan.</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Langkah kesembilan, baglog disusun di rak dalam rumah jamur (pertumbuhan jamur 10-15 hari kemudian, tumbuh pin head/bakal tumbuh buah). Bakal tumbuh buah tersebut disiram air bersih agar jamur tumbuh. Untuk jamur tiram, yang disiram rumah jamurnya. Untuk jamur kuping penyiraman langsung pada substrat sampai basah kuyup. Suhu rumah jamur 16-22 derajat C RH : 80-90 %.</font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman">Langkah terakhir panen jamur tiram/kuping. Panen kurang dari 9 kali dalam waktu kurang dari 1,5 bulan tergantung cara pemeliharaan/penyiraman jamur dan kebersihan kubung. Atau sisa panen 2-5 kali seminggu.</font><font face="Times New Roman"> </font><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">Faktor penting yang harus diperhatikan dalam budidaya jamur tiram ini adalah masalah higienis, aplikasi bibit unggul, teknlogi produksi bibit (kultur murni, bibit induk, bibit sebar), teknologi produksi media tumbuh/substrat dan pemeliharaan serta cara panen jamur tiram.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sashaoyster.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sashaoyster.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sashaoyster.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sashaoyster.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sashaoyster.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sashaoyster.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sashaoyster.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sashaoyster.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sashaoyster.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sashaoyster.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sashaoyster.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sashaoyster.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sashaoyster.wordpress.com&blog=2541473&post=6&subd=sashaoyster&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sashaoyster.wordpress.com/2008/01/17/cara-praktis-budidaya-jamur-tiram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5c58b52a7236a180d7af4d11a1d2df01?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sasha</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>