Sashaoyster’s


Kemitraan Bisnis Jamur Tiram
Februari 9, 2008, 6:06 am
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori

Caranya, ia menyediakan kumbung serta baglog, juga membantu dalam pemasaran jamur tiram yang diproduksi oleh petani mitra. Selain itu, ia juga memberi pelatihan cara budidaya jamur tiram yang baik, manajemen produksi dan keuangan, serta pemasaran. Dalam satu periode panen (45 hari), umumnya petani sudah bisa kembali modal. Sedangkan kumbung bisa bertahan hingga lima tahun dengan perbaikan ringan di bagian rak baglog dan dinding yang terbuat dari bambu. 

Konsentrasi di Pembesaran

 Kumbung dan baglog dibuat agar sesuai dengan standar budidaya jamur tiram yang dikerjakan  farm-nya yang terletak di Desa Pandansari, Kecamatan Ciawi, Bogor. “Saya sudah memperhitungkan keuntungan buat mitra dan mengambil sedikit untuk biaya produksi dan anak-anak yang bekerja membuat baglog,” ujar H. Achmad. Baglog produksinya dijual dengan harga Rp1.250/buah dengan biaya produksi sekitar Rp900/baglog. Dalam sehari, ia  mampu memproduksi kurang lebih 5.000 baglog  yang digunakan sendiri maupun untuk mitra.

Selain itu, kumbungnya juga menghasilkan  800—1.000 kg jamur tiram segar/hari, termasuk jamur produksi petani mitra. “Jika mereka sudah kuat, kemudian ingin produksi dan jual jamur sendiri, silakan. Saya justru senang karena mereka bisa berdikari,” ujarnya.  Namun, ia  tahu petani pemula umumnya belum menguasai budidaya dan pemasaran jamur. Itulah sebabnya mereka mencari aman dengan membeli baglog yang baik dan terjamin pemasarannya terjamin. Menurutnya, pemula sebaiknya tidak mengelola usaha jamur dalam skala yang terlalu besar, yaitu sekitar 10.000—25.000 baglog dan hanya berkonsentrasi di bagian pembesaran (grower). “Setelah mengetahui seluk-beluk budidaya jamur dan lika-liku pemasaran jamur, petani dapat mulai belajar membuat baglog dan bibit jamur,” sarannya. Sebagian orang menganggap aktivitas di kumbung tidak ada ilmunya. “Padahal sebaliknya, grower sangat banyak ilmunya dan tidak tertulis di buku manapun,” ujar Bahrul Ulum, Manajer Produksi jamur tiram milik H. Achmad. Berbeda dengan pembibitan yang sudah standar, pengelolaan grower sangat tidak standar dan banyak tantangannya. Diserap Pasar Tradisional Lili, salah satu petani mitra H. Achmad yang memulai usahanya dengan 10.000 baglog. Dalam waktu tiga bulan, ia mampu menghasilkan 3 ton jamur tiram atau rata-rata 35 kg/hari.
“Hasil ini belum maksimal karena kami baru belajar,” aku Lili yang mengerjakan usaha jamur tiramnya secara gotong royong dengan petani lain di wilayah Parung, Bogor. Ia mengakui, awalnya sempat khawatir soal pemasaran, tetapi akhirnya menjadi  percaya diri karena produksinya bisa diserap pasar tradisional setempat.  “Saya yakin,  kalau produksi  jamur sudah mencapai 100 kg/hari, pedagang akan datang sendiri,” ujar Lili. Menurut Bahrul Ulum, pemasaran jamur sebenarnya tidak ada masalah asalkan diproduksi dalam jumlah besar. “Oleh karena itu, saya sarankan agar pembudidaya jamur berkelompok sehingga produksi jamur dalam satu unit produksi cukup besar,” katanya lagi.

Tujuannya, agar pedagang pedagang dapat membeli jamur dalam jumlah besar sehingga menghemat biaya transpor. Selain itu, usahakan agar menghasilkan produk yang baik, yaitu jamur tiram yang bersih, segar, tidak basah, tidak pecah, dan rapi penataannya. Di tingkat petani, jamur tiram dijual dengan harga Rp6.500/kg untuk partai besar dan Rp7.500/kg untuk eceran. Jamur berkualitas baik dapat bertahan kesegarannya hingga 36 jam pada suhu kamar.  Sumber: Agrina-online



Menebar jamur meraup untung
Februari 1, 2008, 8:01 am
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori

Budaya pola hidup sehat yang kini merebak di tengah masyarakat kita benar-benar menjadi berkat bagi orang yang hidupnya di pedesaan. Mau bukti?

Saat ini, akibat tren minat masyarakat terhadap sayuran organik memuncak akibat pola hidup sehat telah menjadi gaya hidup masyarakat, jamur (termasuk jamur tiram) telah menjadi salah satu bisnis yang menggiurkan karena menjadi penganan alternatif. Bahkan, akibat tingginya permintaan, semua permintaan belum mampu dipenuhi. Permintaan jamur tiram dari pasar induk dan supermarket saat ini mencapai 20 ton per hari. Semua itu, belum bisa dipenuhi para petani di sentra budi daya jamur tiram di Kecamatan Cisarua dan Parongpong kawasan Lembang Bandung.

Para petani jamur tiram di Lembang baru bisa memenuhi setengahnya atau 10 ton per hari untuk kebutuhan pasar induk di Bandung, Tangerang, Jakarta serta beberapa supermarket.

“Peluang bisnis ini, kedepan sangat baik,” kata M Kudrat Ketua Masyarakat Agribisnis Jamur Indonesia (MAJI) saat ditemui di sentra budi daya Cisarua. Selain tren tadi, juga disebabkan Deptan mengelompokan jamur sebagai sayuran organik yang dibudidayakan tanpa pestisida.

Akibatnya, kini, tren permintaan setiap tahun terus melonjak rata-rata 10% per tahun. “Tapi belum sebanding dengan pasokan. Bahkan penambahan jumlah petani jamur tiram, pun belum mencukupi.”

Sejak 2006, pasar jamur tiram sudah beralih ke supermarket. Tapi pasokan jamur tiram dari MAJI ke supermarket masih terbilang rendah 0,5 ton per hari. Padahal, beberapa konter Toserba Yogya di Bandung mengemas jamur secara cantik sehingga menarik minat konsumen. Senior Operation Manager Toserba Yogya Bandung Hendarta mengatakan pasar jamur tiram untuk kalangan ekonomi menangah ke atas. “Mereka umumnya mengerti soal kesehatan dan jamur bergizi tinggi selain pangan organik,” ujarnya.

Dia mengakui prospek pasar jamur tiram ke depan sangat tinggi jika dibare- ngi dengan sosialisasi ke masyarakat. Terutama mengenai kandungan gizi dan manfaat mengonsumsi jamur. “Jamur bisa menjadi substitusi daging atau telur ayam. Kandungan gizinya hampir sama,” tambahnya.

Berdasarkan penelitian Sunan Pongsamart, biochemistry, Faculty of Pharmaceutical Universitas Chulangkorn, kandungan asam amino esensial jamur tiram mencapai 46,0 gram/100 gram protein. Sedikit di bawah telur ayam dengan kandungan 47,1 gam/100 gram protein. Dalam 100 gram jamur mengandung 2,13 gram protein; 90,7 gram air; 32,4 kalori; 5,76 gram karbohidrat; sisanya serat zat ebsi, kalsium, vitamin B1, B2 dan Vitamin C.

Kini, jumlah petani yang terjun membudidayakan jamur tiram belum banyak kecuali di Kecamatan Cisarua Lembang Bandung, pelopor dan sentra budi daya jamur tiram di Indonesia. Kudrat mengakui beberapa daerah seperti Garut, Cianjur, Sukabumi, hingga Bali dan beberapa daerah dataran tinggi di Sumatra sudah mengembangkan jamur tiram. “Namun masih terbatas.”  Di Lembang, jumlah anggota MAJI yang membudidayakan jamur tiram 300 orang. Mereka membentuk kelompok-kelompok usaha guna memenuhi tingginya permintaan itu.

Peluang Investasi
Budi daya jamur relatif mudah dan murah. Selain bahan baku media serbuk gergaji yang berlimpah, jamur tiram termasuk tanaman bandel terhadap hama dan mudah beradaptasi dengan lingkungan. Itu sebabnya jamur digolongkan tanaman organik karena bebas pestisida. Basuki Rachmat, Sekretaris MAJI, mengatakan usaha jamur minimal dibutuhkan tiga buah kumbung atau rumah tanam berupa bangunan dari bambu dan kayu di atas lahan 8×6 meter. Satu kumbung dibutuhkan biaya Rp20 juta yang tahan hingga lima tahun. Per tahun, biaya susutnya 10%.

Dalam satu kumbung dibuat rak-rak yang mampu menampung 10.000 media siap tanam (baglog) yang bisa langsung dibeli di Cisarua seharga Rp1.250 per baglog. Baglog merupakan campuran media tanam dengan bahan baku utama serbuk gergaji dan campuran material organik lainnya yang mengandung lignin atau selulosa. Jika membuat sendiri harganya Rp900 per baglog tapi dibutuhkan modal lebih banyak untuk membeli peralatan pengukusan.

Panen jamur dapat dilakukan tiap hari selama empat bulan atau satu siklus masa tanam. Dari satu baglog dapat dipanen maksimal 0,6 kg. Jika punya tiga kumbung dengan 10.000 baglog per kumbung berarti total dalam satu siklus dapat dipanen 18 ton.

Dengan harga rata-rata Rp5.000 per kg di tingkat petani, maka dalam satu siklus tanam diperoleh omset Rp90 juta. Setelah dikurangi biaya produksi jamur Rp2.500 per kg termasuk harga baglog, maka keuntungan yang dapat diraih Rp 45 juta per siklus tanam. “Jika panen lancar modal awal dapat kembali dalam tempo 2 hingga 3 tahun,” kata Basuki.

Harga jamur tiram pada November-Desember lalu Rp6.500 per kg di tingkat petani. Harga ini terbilang tinggi dari harga normal, Rp5.000/kg. Harga akhir konsumen jamur berkisar Rp8.000-Rp10.000 per kg. Harga ini bisa melonjak tajam jika dikirim ke luar Jawa. Di Bali, harga jamur tiram di tingkat konsumen Rp25.000 per kg, di Kalimantan Rp30.000 per kg.

Suryani pemilik Dio Mushroom Cisarua mengaku menerima permintaan dari Singapura berupa jamur segar dan dari Timur Tengah berupa kripik jamur. Namun, belum bisa dipenuhi karena masalah kontinuitas dan teknologi pengawetan. Sebab jamur segar hanya tahan dua hari.

“Selain dibuat kripik, jamur juga dibuat krupuk. Terkadang jamur sering dijadikan substitusi bahan dasar nugget, dibuat kolak dan bahan cendol serta salad dan pepes,” ujar Nunung. Basuki menyebutkan omzet jamur tiram pada 2006 mencapai Rp20 miliar per tahun. Tapi, dalam waktu dekat, omset diprediksi menjadi Rp35 miliar hingga Rp40 miliar. “Terutama jika masuk konsumen industri jamur olahan.”

“Dari angka itu, share untuk petani Rp25 miliar hingga Rp35 miliar atau sekitar 60% dari omzet total,” jelas Basuki. Padahal, lanjut dia, tingkat konsumsi jamur di Indonesia tergolong rendah. Data MAJI menyebutkan, pada 2004 konsumsi jamur orang Indonesia 0,05 kg/kapita per tahun. Di Prancis mencapai 4,5 kg/kapita per tahun dan di China 3,5 kg/kapita per tahun. Untuk ekspor, lanjut Basuki, pasar potensial ada di Amerika, Eropa dan Asia Timur.

Oleh Dadan Muhanda
Kontributor Bisnis Indonesia
Selasa, 13-FEB-2007