Sashaoyster’s


Petani Jamur Berusaha Perbaiki Harga Jual
Januari 17, 2008, 10:43 pm
Filed under: Tak Berkategori

BANDUNG, (PR).-
Kalangan petani jamur di Jabar akan kembali membuat sistem pemasaran bersama, untuk memperbaiki harga jamur yang saat ini anjlok.”Cara seperti ini beberapa waktu lalu pernah dilakukan dan berhasil menstabilkan harga jual jamur. Namun entah mengapa, sistem ini kemudian tak berjalan lagi dan para petani penanam jamur kemudian berjalan sendiri-sendiri,” ujar Ketua Masyarakat Agrobisnis Jamur Indonesia (MAJI), Kudrat Slamet, di Bandung, Senin (29/8).Disebutkan, saat ini penurunan harga jual jamur banyak terjadi di sejumlah kabupaten di Jabar, terutama Kabupaten Bandung. Ini terutama untuk jenis jamur tiram yang harganya bervariasi tergantung produk asal wilayah, ada yang harga beli pedagang pengumpul kepada petani menjadi Rp 3.000,00/kg dari semula Rp 4.000,00/kg, namun pada daerah lain ada yang hanya Rp 6.000,00/kg dari semula Rp 7.500,00/kg.Kondisi demikian, menurut Kudrat, tampaknya diperparah dengan sistem jaringan pemasaran di antara pembeli, sehingga mampu menekan harga kepada petani. Repotnya, produksi jamur tiram dari Jabar yang merupakan produsen terbesar nasional, kini rata-rata menjadi 10 ton/hari dari semula hanya 7-8 ton/hari. Di luar itu, untuk jamur jenis kuping dan shitake, belakangan marak produk impor asal Cina. Harganya pun lebih murah, di pasaran rata-rata Rp 15.000,00-20.000,00/kg dibandingkan buatan petani lokal yang umumnya Rp 30.000,00/kg.┬áBanting hargaSementara itu, beberapa petani jamur dari Kec. Lembang, Kab.
Bandung, mengeluhkan atas sistem pemasaran jamur yang selama ini cenderung belum kembali kompak. Akibatnya, banyak terjadi sistem banting harga di antara sesama petani jamur.Selama ini, harga jamur di antara berbagai daerah sudah berlainan secara mencolok. Pasalnya, banyak petani yang terburu-buru menjual jamurnya ke tengkulak karena perlu uang mendesak.Pada sisi lain, selama ini pemasaran dan perdagangan jamur cenderung masih tradisional. Umumnya, pemasaran dan perdagangan jamur hanya dijual secara borongan panen, belum ada yang dilanjutkan dengan produk hilir, misalnya jamur kering dan jamur kemasan.”Selama ini, sulit dibedakan jamur dari Lembang, dari Parongpong, Ciwidey, atau Karawang, Bogor, dll. Padahal, produk jamur impor rata-rata sudah dikemas lebih baik sehingga lebih dikenal dengan merek dagang dan jenis produk. Kami pikir sebaiknya MAJI mampu memperjuangkan masalah ini,” ujar seorang petani jamur asal Cikole, yang tak mau disebut namanya.Di lain pihak, produk jamur sebenarnya berpotensi dipromosikan dan ditingkatkan pemasaran, dengan meningkatkan citra melalui produk organik. Namun sejauh ini, produk-produk jamur asal Jabar belum ada yang melakukan itu.Sekjen Asosiasi Pelaku Agrobisnis Organik Indonesia (Aspaindo), Yoga Udayana, membenarkan bahwa jamur sebenarnya dapat dimasukkan ke produk pertanian organik. Dasarnya, budi daya jamur umumnya tak diperlakukan dengan bahan-bahan kimia.Di masa depan, jamur berpotensi menjadi produk pertanian yang bernilai jual lebih baik. Ini jika dikaitkan, produk pertanian organik belakangan cenderung sedang lebih banyak diminati konsumen. “Namun, itu pun perlu diteliti lebih jauh. Memang dalam penanaman atau pemeliharaan umumnya tak ada perlakukan bahan kimia, namun media tempat pengembangbiakan jamur ini yang perlu diketahui, apakah ada bekas atau perlakuan bahan kimia,” jelasnya.

About these ads

Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: