Sashaoyster’s


Jamur diolah, laba diraup
Januari 17, 2008, 6:33 am
Filed under: Profil Petani jamur Tiram

Wajah Nunung Suryani tampak letih. Dua malam berturut-turut ia bergeming di depan wajan penggorengan. Di dapur seluas 25 m2 itu 400–800 kg jamur tiram segar diolah menjadi 100–200 kilogram keripik pesanan tamu yang berkunjung ke Citra Jamur Lestari, Cisarua, Cimahi. Kesibukan makin bertambah lantaran permintaan 10–20 kilogram per minggu dari kios-kios langganan di Bandung dan Jakarta.KEESOKAN hari, keletihan dan kepenatan Yani–demikian ia disapa–sirna berganti keceriaan dan kebahagiaan. Pengorbanan semalam suntuk berbuah untung lantaran keripik jamur diborong tamu. “Setiap bulan ada kunjungan. Mereka senang makan keripik jamur sampai ada yang tidak kebagian,” kata Yani.Hanya mengandalkan kunjungan tiap bulan saja, ia mampu meraup omzet Rp5 juta–Rp10 juta dengan menjual keripik Rp50.000 per kiloram.Tak heran jika rutinitas ibu kelahiran Bandung 38 tahun silam itu meningkat sejak lima tahun lalu. Ia tertarik lantaran peluang bisnis olahan jamur menjanjikan.Menurut Yani, modal keripik berkisar Rp35.000–Rp40.000 untuk mengolah 4 kilogram jamur segar menjadi 1 kilogam keripik. Setelah dikurangi biaya jamur, tenaga kerja, dan bumbu, ia meraup untung bersih Rp10.000–Rp15.000 per kilo keripik atau Rp500.000–Rp1 juta per minggu.MeningkatKelezatan aneka olahan jamur bergizi tinggi itu membuat permintaan makin tinggi. Awalnya, permintaan hanya 2–5 kilo per minggu. “Dulu cuma 1–2 kios saja yang dipasok,” katanya.Kini ia rutin memasok 5–10 kilogram per minggu ke beberapa kios pusat jajanan. Cafe Organik milik Wieke Lorenz di bilangan Maribaya tak luput untuk disasar 5–10 kilogram keripik per minggu. Permintaan meningkat menjelang hari raya dan liburan sekolah.Tak heran jika omzet ratusan ribu hingga jutaan rupiah diraih. Bersama kelompok Annisa Mushroom, Cisarua, ia dan puluhan pekebun jamur kini intensif mengolah Pleurotus ostreatus. Di tangan mereka, jamur bersalin rupa menjadi aneka jajajan seperti es cendol, skotel, sup, hingga campuran sayuran lain.”Respons konsumen cukup bagus. Di pameran dan seminar banyak yang pesan,” ujar Ika Kartika, yang mengolah jamur menjadi es cendol. Menurut ibu kelahiran Bandung 45 tahun silam itu cita rasa es cendol jamur tak kalah dengan es cendol pandan atau es kelapa muda.MenjamurIndustri olahan jamur memang tengah marak. Sebagaimana diamati Trubus, hampir di setiap sentra jamur seperti Lembang, Cisarua, Solo, Wonosobo, Blitar, dan sentra lain terdapat pengolahan jamur.Nun di Wonosobo, Jawa Tengah, UD Cendawan Mas mengusahakan keripik jamur campignon, kuping dan tiram sejak 15 tahun silam. Perusahaan pengolahan jamur di bilangan Bismo, Kauman Selatan itu rata-rata membutuhkan pasokan minimal 2 ton jamur campignon segar per bulan. Jika Lebaran dan musim liburan tiba, kebutuhan membengkak hingga lima ton per bulan.Menurut Toto Iswanto, staf pemasaran, permintaan keripik jamur naik sejak 2000. Awalnya permintaan hanya 1 kuintal per minggu. Kini pengiriman dua kali seminggu ke beberapa pusat jajanan di Jawa Tengah dan Jawa Timur meningkat hingga tiga kuintal sekali kirim. Permintaan itu belum termasuk kebutuhan 50 kilogram selama pameran yang acap dilaksanakan di Jakarta.Tak pelak, kebutuhan bahan baku pun bertambah. Biasanya 50 kilogram jamur segar per hari diolah menjadi keripik. Namun, permintaan yang menggunung memaksa Mujitan, manajer operasional, terus meningkatkan pasokan jamur segar. “Kebutuhan naik terus. Sejak tiga tahun silam naik dari satu kuintal menjadi tiga kuintal lebih per hari,” katanya. Bahkan menurut perempuan 29 tahun itu kebutuhan bahan baku meningkat 5–7 kuintal per hari.Omzet pun membengkak. Dengan menjual keripik Rp30.000/kg, perusahaan milik Hj. Chotijah Soeripto itu menangguk omzet Rp4.800.000 per hari. Setelah dikurangi biaya produksi, keuntungan bersih Rp5.760.000 per bulan ditangguk.Tak hanya jamur tiram yang mampu menarik pundi rupiah ke kantong.Di Solo, H. Parjimo sukses menjajakan aneka olahan jamur lingzhi. Kini tak hanya ramuan obat, laba dari keripik kuping dan tiram pun besar. Produksi jamur tiram segar 50 kilogram per hari diolah menjadi 12,5 kilogram keripik tiram. Setelah dikemas 100 gram hingga 1 kilogram per kemasan, ia pun menjualnya Rp40.000 sekilo.Artinya, omzet Rp14 juta diraup hanya dari keripik jamur tiram dan kuping. “Dari semua olahan jamur, omzet bisa lebih dari Rp50 juta per bulan. Penghasilan terbesar dari olahan lingzhi,” katanya.KendalaOmzet tinggi dan laba besar tak berarti bebas masalah. Besarnya permintaan membuat Yani kelabakan mencari pasokan bahan baku. Maklum, mengikuti pameran selama seminggu di Jakarta membutuhkan 5–10 kilogram keripik. Artinya, untuk pameran saja ia harus menyediakan 20–40 kilogram jamur tiram segar. Padahal, total kebutuhan untuk seluruh permintaan mencapai 160 kilogram jamur segar seminggu untuk keripik. Itu belum termasuk kebuthan untuk pepes jamur, risolis, dan olahan lain mencapai 40–50 kilogram seminggu.Untuk menghindari kekurangan pasokan bahan baku ia bekerja sama dengan pekebun lain di sekitar tempat tinggal. “Minimal stok pasokan bahan baku 50 kilogram per minggu,” katanya. Menurut ibu Al Mauliddio Muhammad Nauvaldy itu, untuk bisnis olehan jamur minimal 200 kilogram setiap minggu.Kesulitan jamur segar juga dialami UD Cendawan Mas. Kumbung-kumbung pemasok jamur di daerah Dieng, Jawa Tengah, gulng tikar. Padahal ia membutuhkan minimal lima kuintal jamur untuk keripik. Tak pelak, ia harus mengambil dari Brebes dan Mojokerto demi memenuhi kebutuhan konsumen.Selain bahan baku, Yani mengaku kesulitan memenuhi permintaan 1 ton per minggu keripik ke Timur Tengah lantaran teknik pengolahan dan pengemasan yang tidak memadai. Tak hanya itu, teknik pengemasan menjadi tuntutan utama. “Harusnya pengolahan keripik menggunakan vacuum fryer agar kadar minyak bisa dikurangi,” ujar mantan sekretaris di sebuah perguruan tinggi di Cimahi itu.Menurut Yani, dengan pengolahan jamur tiram, kuping, lingzhi tidak membanjiri pasar. Artinya, keripik jamur turut andil menstabilkan harga jamur segar di pasaran. Namun, keripik itu kini terganjal teknik pengolahan dan kemasan. Jadi, bukan mustahil jika laba besar dari keripik jamur dan olahan lain tidak lagi menjamur.Jamur MerangBerbeda dengan Yani di Jawa Barat, di beberapa daerah di Provinsi Lampung, pengembangan komoditas jamur baru sebatas budi daya. Petani tadah hujan di Desa Margakarya, Kecamatan Katibung (Lamsel) misalnya, mengenal budi daya jamur khususnya jamur merang belumlah lama.Tukiman (45) mengatakan dari budi daya jamur merang tiap satu kumbung (rumah jamur) memperoleh hasil sekitar 160 kilogram jamur merang atau sekitar Rp1,6 juta/bulan. “Hasil tersebut tidak untuk saya sendiri, tetapi masih harus dibagi pada enam anggota kelompok,” katanya. Dalam keadaan baik, kata dia, dalam satu bulan bisa dua kali panen.Sebaliknya, jika terlambat mengontrol tak jarang panen bisa gagal. Ini terutama sekali karena jamur merang sangat rentan udara.Menurut Tukiman, dalam satu kali tanam, untuk satu kumbung diperlukan biaya Rp500.000. Peruntukanya antara lain pembelian bibit 80 polybag (botol), ijuk aren, 30 kg kapur pertanian (dolomit), dan dedak padi serta sebagian pupuk kandang.Sementara menurut Kasdi (60), pemiliki dua kumbung ini, walaupun belum mendapatkan hasil lumayan, dari budi daya tersebut ia bisa menutup biaya sekolah sekaligus membantu memberi pekerjaan kepada anggota kelompoknya.Sementara, di Lampung Timur tepatnya Dusun Wonogari, Desa Tulusrejo, Pekalongan, sejak beberapa tahun lalu telah melakukan uji coba (kaji terap) budi daya jamur merang dengan memanfaatkan sisa-sisa tanaman padi. Dan hasilnya ternyata cukup memuaskan.Sementara di pinggiran Kota Bandar Lampung, budi daya jamur skala kecil mulai tumbuh dan terus bertahan. Seperti di Kampung Lingsuh, Rajabasa, dan di Margajaya, Jatiagung, yang terus mengembangkan usaha budi daya jamur ini.

About these ads

Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: