Sashaoyster’s


Kemitraan Bisnis Jamur Tiram
Februari 9, 2008, 6:06 am
Filed under: Tak Berkategori

Caranya, ia menyediakan kumbung serta baglog, juga membantu dalam pemasaran jamur tiram yang diproduksi oleh petani mitra. Selain itu, ia juga memberi pelatihan cara budidaya jamur tiram yang baik, manajemen produksi dan keuangan, serta pemasaran. Dalam satu periode panen (45 hari), umumnya petani sudah bisa kembali modal. Sedangkan kumbung bisa bertahan hingga lima tahun dengan perbaikan ringan di bagian rak baglog dan dinding yang terbuat dari bambu. 

Konsentrasi di Pembesaran

 Kumbung dan baglog dibuat agar sesuai dengan standar budidaya jamur tiram yang dikerjakan  farm-nya yang terletak di Desa Pandansari, Kecamatan Ciawi, Bogor. “Saya sudah memperhitungkan keuntungan buat mitra dan mengambil sedikit untuk biaya produksi dan anak-anak yang bekerja membuat baglog,” ujar H. Achmad. Baglog produksinya dijual dengan harga Rp1.250/buah dengan biaya produksi sekitar Rp900/baglog. Dalam sehari, ia  mampu memproduksi kurang lebih 5.000 baglog  yang digunakan sendiri maupun untuk mitra.

Selain itu, kumbungnya juga menghasilkan  800—1.000 kg jamur tiram segar/hari, termasuk jamur produksi petani mitra. “Jika mereka sudah kuat, kemudian ingin produksi dan jual jamur sendiri, silakan. Saya justru senang karena mereka bisa berdikari,” ujarnya.  Namun, ia  tahu petani pemula umumnya belum menguasai budidaya dan pemasaran jamur. Itulah sebabnya mereka mencari aman dengan membeli baglog yang baik dan terjamin pemasarannya terjamin. Menurutnya, pemula sebaiknya tidak mengelola usaha jamur dalam skala yang terlalu besar, yaitu sekitar 10.000—25.000 baglog dan hanya berkonsentrasi di bagian pembesaran (grower). “Setelah mengetahui seluk-beluk budidaya jamur dan lika-liku pemasaran jamur, petani dapat mulai belajar membuat baglog dan bibit jamur,” sarannya. Sebagian orang menganggap aktivitas di kumbung tidak ada ilmunya. “Padahal sebaliknya, grower sangat banyak ilmunya dan tidak tertulis di buku manapun,” ujar Bahrul Ulum, Manajer Produksi jamur tiram milik H. Achmad. Berbeda dengan pembibitan yang sudah standar, pengelolaan grower sangat tidak standar dan banyak tantangannya. Diserap Pasar Tradisional Lili, salah satu petani mitra H. Achmad yang memulai usahanya dengan 10.000 baglog. Dalam waktu tiga bulan, ia mampu menghasilkan 3 ton jamur tiram atau rata-rata 35 kg/hari.
“Hasil ini belum maksimal karena kami baru belajar,” aku Lili yang mengerjakan usaha jamur tiramnya secara gotong royong dengan petani lain di wilayah Parung, Bogor. Ia mengakui, awalnya sempat khawatir soal pemasaran, tetapi akhirnya menjadi  percaya diri karena produksinya bisa diserap pasar tradisional setempat.  “Saya yakin,  kalau produksi  jamur sudah mencapai 100 kg/hari, pedagang akan datang sendiri,” ujar Lili. Menurut Bahrul Ulum, pemasaran jamur sebenarnya tidak ada masalah asalkan diproduksi dalam jumlah besar. “Oleh karena itu, saya sarankan agar pembudidaya jamur berkelompok sehingga produksi jamur dalam satu unit produksi cukup besar,” katanya lagi.

Tujuannya, agar pedagang pedagang dapat membeli jamur dalam jumlah besar sehingga menghemat biaya transpor. Selain itu, usahakan agar menghasilkan produk yang baik, yaitu jamur tiram yang bersih, segar, tidak basah, tidak pecah, dan rapi penataannya. Di tingkat petani, jamur tiram dijual dengan harga Rp6.500/kg untuk partai besar dan Rp7.500/kg untuk eceran. Jamur berkualitas baik dapat bertahan kesegarannya hingga 36 jam pada suhu kamar.  Sumber: Agrina-online



Menebar jamur meraup untung
Februari 1, 2008, 8:01 am
Filed under: Tak Berkategori

Budaya pola hidup sehat yang kini merebak di tengah masyarakat kita benar-benar menjadi berkat bagi orang yang hidupnya di pedesaan. Mau bukti?

Saat ini, akibat tren minat masyarakat terhadap sayuran organik memuncak akibat pola hidup sehat telah menjadi gaya hidup masyarakat, jamur (termasuk jamur tiram) telah menjadi salah satu bisnis yang menggiurkan karena menjadi penganan alternatif. Bahkan, akibat tingginya permintaan, semua permintaan belum mampu dipenuhi. Permintaan jamur tiram dari pasar induk dan supermarket saat ini mencapai 20 ton per hari. Semua itu, belum bisa dipenuhi para petani di sentra budi daya jamur tiram di Kecamatan Cisarua dan Parongpong kawasan Lembang Bandung.

Para petani jamur tiram di Lembang baru bisa memenuhi setengahnya atau 10 ton per hari untuk kebutuhan pasar induk di Bandung, Tangerang, Jakarta serta beberapa supermarket.

“Peluang bisnis ini, kedepan sangat baik,” kata M Kudrat Ketua Masyarakat Agribisnis Jamur Indonesia (MAJI) saat ditemui di sentra budi daya Cisarua. Selain tren tadi, juga disebabkan Deptan mengelompokan jamur sebagai sayuran organik yang dibudidayakan tanpa pestisida.

Akibatnya, kini, tren permintaan setiap tahun terus melonjak rata-rata 10% per tahun. “Tapi belum sebanding dengan pasokan. Bahkan penambahan jumlah petani jamur tiram, pun belum mencukupi.”

Sejak 2006, pasar jamur tiram sudah beralih ke supermarket. Tapi pasokan jamur tiram dari MAJI ke supermarket masih terbilang rendah 0,5 ton per hari. Padahal, beberapa konter Toserba Yogya di Bandung mengemas jamur secara cantik sehingga menarik minat konsumen. Senior Operation Manager Toserba Yogya Bandung Hendarta mengatakan pasar jamur tiram untuk kalangan ekonomi menangah ke atas. “Mereka umumnya mengerti soal kesehatan dan jamur bergizi tinggi selain pangan organik,” ujarnya.

Dia mengakui prospek pasar jamur tiram ke depan sangat tinggi jika dibare- ngi dengan sosialisasi ke masyarakat. Terutama mengenai kandungan gizi dan manfaat mengonsumsi jamur. “Jamur bisa menjadi substitusi daging atau telur ayam. Kandungan gizinya hampir sama,” tambahnya.

Berdasarkan penelitian Sunan Pongsamart, biochemistry, Faculty of Pharmaceutical Universitas Chulangkorn, kandungan asam amino esensial jamur tiram mencapai 46,0 gram/100 gram protein. Sedikit di bawah telur ayam dengan kandungan 47,1 gam/100 gram protein. Dalam 100 gram jamur mengandung 2,13 gram protein; 90,7 gram air; 32,4 kalori; 5,76 gram karbohidrat; sisanya serat zat ebsi, kalsium, vitamin B1, B2 dan Vitamin C.

Kini, jumlah petani yang terjun membudidayakan jamur tiram belum banyak kecuali di Kecamatan Cisarua Lembang Bandung, pelopor dan sentra budi daya jamur tiram di Indonesia. Kudrat mengakui beberapa daerah seperti Garut, Cianjur, Sukabumi, hingga Bali dan beberapa daerah dataran tinggi di Sumatra sudah mengembangkan jamur tiram. “Namun masih terbatas.”  Di Lembang, jumlah anggota MAJI yang membudidayakan jamur tiram 300 orang. Mereka membentuk kelompok-kelompok usaha guna memenuhi tingginya permintaan itu.

Peluang Investasi
Budi daya jamur relatif mudah dan murah. Selain bahan baku media serbuk gergaji yang berlimpah, jamur tiram termasuk tanaman bandel terhadap hama dan mudah beradaptasi dengan lingkungan. Itu sebabnya jamur digolongkan tanaman organik karena bebas pestisida. Basuki Rachmat, Sekretaris MAJI, mengatakan usaha jamur minimal dibutuhkan tiga buah kumbung atau rumah tanam berupa bangunan dari bambu dan kayu di atas lahan 8×6 meter. Satu kumbung dibutuhkan biaya Rp20 juta yang tahan hingga lima tahun. Per tahun, biaya susutnya 10%.

Dalam satu kumbung dibuat rak-rak yang mampu menampung 10.000 media siap tanam (baglog) yang bisa langsung dibeli di Cisarua seharga Rp1.250 per baglog. Baglog merupakan campuran media tanam dengan bahan baku utama serbuk gergaji dan campuran material organik lainnya yang mengandung lignin atau selulosa. Jika membuat sendiri harganya Rp900 per baglog tapi dibutuhkan modal lebih banyak untuk membeli peralatan pengukusan.

Panen jamur dapat dilakukan tiap hari selama empat bulan atau satu siklus masa tanam. Dari satu baglog dapat dipanen maksimal 0,6 kg. Jika punya tiga kumbung dengan 10.000 baglog per kumbung berarti total dalam satu siklus dapat dipanen 18 ton.

Dengan harga rata-rata Rp5.000 per kg di tingkat petani, maka dalam satu siklus tanam diperoleh omset Rp90 juta. Setelah dikurangi biaya produksi jamur Rp2.500 per kg termasuk harga baglog, maka keuntungan yang dapat diraih Rp 45 juta per siklus tanam. “Jika panen lancar modal awal dapat kembali dalam tempo 2 hingga 3 tahun,” kata Basuki.

Harga jamur tiram pada November-Desember lalu Rp6.500 per kg di tingkat petani. Harga ini terbilang tinggi dari harga normal, Rp5.000/kg. Harga akhir konsumen jamur berkisar Rp8.000-Rp10.000 per kg. Harga ini bisa melonjak tajam jika dikirim ke luar Jawa. Di Bali, harga jamur tiram di tingkat konsumen Rp25.000 per kg, di Kalimantan Rp30.000 per kg.

Suryani pemilik Dio Mushroom Cisarua mengaku menerima permintaan dari Singapura berupa jamur segar dan dari Timur Tengah berupa kripik jamur. Namun, belum bisa dipenuhi karena masalah kontinuitas dan teknologi pengawetan. Sebab jamur segar hanya tahan dua hari.

“Selain dibuat kripik, jamur juga dibuat krupuk. Terkadang jamur sering dijadikan substitusi bahan dasar nugget, dibuat kolak dan bahan cendol serta salad dan pepes,” ujar Nunung. Basuki menyebutkan omzet jamur tiram pada 2006 mencapai Rp20 miliar per tahun. Tapi, dalam waktu dekat, omset diprediksi menjadi Rp35 miliar hingga Rp40 miliar. “Terutama jika masuk konsumen industri jamur olahan.”

“Dari angka itu, share untuk petani Rp25 miliar hingga Rp35 miliar atau sekitar 60% dari omzet total,” jelas Basuki. Padahal, lanjut dia, tingkat konsumsi jamur di Indonesia tergolong rendah. Data MAJI menyebutkan, pada 2004 konsumsi jamur orang Indonesia 0,05 kg/kapita per tahun. Di Prancis mencapai 4,5 kg/kapita per tahun dan di China 3,5 kg/kapita per tahun. Untuk ekspor, lanjut Basuki, pasar potensial ada di Amerika, Eropa dan Asia Timur.

Oleh Dadan Muhanda
Kontributor Bisnis Indonesia
Selasa, 13-FEB-2007



Berbisnis Tiram? Sewa saja!
Januari 23, 2008, 3:33 am
Filed under: Profil Petani jamur Tiram

Matahari di akhir pekan baru saja beranjak naik. Fina Fatmawati bergegas menuju Cisarua, Kabupaten Bandung, sekitar 1,5 jam dari kediamannya di Dago, Bandung. Selain sibuk kuliah, mahasiswi Jurusan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia itu punya aktivitas lain: membudidayakan 5.000 baglog jamur tiram. Hanya bermodal awal Rp7,5-juta, setidaknya Rp2-juta mengalir ke rekeningnya per 40 hari.

 Modal awal murah meriah itu lantaran Fina tak membuat kumbung sendiri. Ia menyewa sebuah kumbung milik Mamat Rahmat, pekebun jamur tiram di Cisarua, Bandung. Biaya sewa kumbung Rp300/ baglog/tahun. Jadi, untuk 5.000 baglog, Fina hanya merogoh kocek Rp1,5- juta per tahun.

Biaya itu jauh lebih rendah ketimbang membuat kumbung sendiri. Menurut NS Adiyuwono, pakar jamur di Bandung, biaya pembuatan kumbung berkonstruksi bambu mencapai Rp100.000/m2. Untuk menyimpan 5.000 baglog, dibutuhkan kumbung 35 m2. Total biaya pembuatan Rp3,5-juta. Belum lagi biaya pembuatan rak yang mencapai Rp30.000/m2 atau Rp1,05-juta. Total modal awal untuk membuat kumbung dan rak berkapasitas 5.000 baglog Rp4,55-juta. Dengan menyewa, pekebun bisa menghemat modal awal Rp3-juta.

 

Itu baru kumbung, belum ongkos pembuatan media dan tungku sterilisasi. Biaya pembuatan tungku pun cukup tinggi, bisa mencapai belasan juta rupiah. Akibatnya, biaya investasi awal kian membengkak. Oleh sebab itulah Fina lebih memilih menyewa kumbung dan membeli media yang sudah jadi. Media dipesan dari Mamat. Harga beli baglog cokelat-sebutan media yang belum diselimuti miselia-Rp1.200. Total biaya pembelian 5.000 baglog Rp6-juta. Jadi, jumlah modal awal bisnis jamur tiram dengan cara sewa kumbung hanya Rp7,5-juta.

 

Baglog putih

 

Empat puluh hari setelah pembibitan, Fina siap menuai rupiah. Saat itu sebetulnya media baru dipenuhi miselia berwarna putih. Baglog yang sudah ditumbuhi miselia disebut baglog putih. ‘Permintaan baglog putih akhir-akhir ini cukup banyak,’ kata Fina. Ia menjual baglog putih dengan harga Rp1.600 per baglog. Jadi, dalam 40 hari, lajang 22 tahun itu telah mengantongi Rp8-juta. Setelah dikurangi biaya pembelian baglog, ia masih memperoleh laba Rp2 – juta. ‘Penghasilannya lumayan,’ imbuhnya. Dengan pendapatan sebesar itu saja, Fina sudah bisa menutupi biaya sewa. Pantas bila ia berhasrat menambah sewa kumbung untuk menampung 30.000 baglog.

 

Jumlah baglog sebanyak itu memang tak seluruhnya hendak dijual dalam bentuk baglog putih. ‘Tingginya permintaan baglog putih hanya sementara, saat musim hujan saja,’ kata Fina. Menurut Mamat Rahmat, pada musim hujan, pertumbuhan miselia terhambat lantaran suhu terlalu rendah. Di Cisarua, temperatur udara di musim hujan hanya 18-20oC.

 

Untuk pertumbuhan miselia, suhu yang diperlukan 25-32oC. Akibatnya, risiko gagal tumbuh miselia makin tinggi. ‘Hingga 30%,’ kata Mamat. Oleh sebab itulah para pekebun di Cisarua lebih memilih membeli baglog putih untuk menghindari risiko gagal.

 

Toh menjual jamur segar pun menjanjikan keuntungan tinggi. Itu dialami Ernawati, pekebun jamur tiram yang juga menyewa kumbung milik Mamat Rahmat. Mulanya ibu 3 anak itu hanya membudidayakan 20.000 baglog jamur tiram. Selama 1 periode (6 bulan) Ernawati meraup laba bersih Rp13-juta atau Rp2-juta lebih per bulan.

 

Laba periode pertama itu ia investasikan untuk menambah jumlah sewa kumbung menjadi 34.000 baglog. Kini, istri pegawai RS Hasan Sadikin Bandung itu mengelola 80.000 baglog. Dari jumlah itu, Ernawati memanen 32 ton per periode tanam (6 bulan). Dengan harga jual rata-rata Rp4.500 per kg, ia meraup omzet Rp144-juta per 6 bulan. Setelah dikurangi biaya pembelian baglog dan tenaga kerja, ibu rumah tangga itu mengutip laba Rp6-juta per bulan.

 

Lebih untung

 

Tak hanya Fina dan Ernawati yang meraup laba dari jamur tiram dengan sistem sewa. ‘Ada 45 orang yang kini menyewa kumbung,’ kata Rahmat. Menurut hitung-hitungan Mamat, menyewakan kumbung ternyata menguntungkan. Selain memperoleh pendapatan tetap dari sewa kumbung, permintaan baglog pun kian meningkat. ‘Dulu hanya menjual 3.500 baglog per hari. Kini mencapai 14.000 baglog,’ katanya.

 

Yang paling menggembirakan, lokasi para penyewa kumbung berada di satu kompleks sehingga memangkas biaya transpor. Oleh sebab itu, Mamat berani memberi pelayanan ekstra bagi para penyewa. Media tanam yang dipesan tak hanya diantar hingga kumbung, tetapi langsung disusun di atas rak. ‘Tak ada tambahan biaya. Pokoknya penyewa tahu beres,’ katanya. Ia juga berani menjamin akan mengganti seluruh media yang rusak saat pengiriman dan yang gagal tumbuh miselia.

 

Layanan istimewa itu jelas menguntungkan para penyewa. Mereka terbebas dari risiko gagal tumbuh. Keuntungan itu dirasakan betul oleh Sunardi. Pria 28 tahun itu sebelumnya bekerja di salah seorang pekebun jamur tiram besar yang mengelola kumbung berkapasitas 150.000 baglog. Akibat kegagalan manajemen pada 2003 perusahaan itu gulung tikar.

 

Tak mau mengulang pengalaman pahit, pada 2004, Sunardi beralih menyewa kumbung berkapasitas 6.000 baglog. Meski keuntungannya belum tinggi, ‘Tetapi saya lebih tenang karena tidak ada risiko gagal. Toh kalau rusak juga diganti,’ katanya.

 

Oleh sebab itulah Nardi-panggilan akrabnya-terus menyisihkan keuntungan dan menambah jumlah kumbung. Kini, pria yang baru menikah setahun lalu itu mengelola 50.000 baglog. Dari jumlah itu, Nardi menuai 20 ton jamur tiram per periode tanam. Dengan harga jual Rp4.500/kg, ia memperoleh omzet Rp90-juta per 6 bulan. Setelah dikurangi biaya pembelian baglog dan tenaga kerja, pria kelahiran Wonosari, Jawa Tengah, itu mengutip laba bersih Rp3-juta per bulan.

 

Tak perlu repot

 

‘Kami menyediakan tim yang akan merawat jamur tiram milik penyewa,’ kata Mamat. Cukup membayar upah tenaga kerja Rp10.000/orang/hari, jamur tiram Anda dijamin terawat. ‘Saat saya sibuk menyusun skripsi, saya hanya sempat mengunjungi kumbung sebulan sekali,’ kata Fina. Meski begitu, rupiah tetap mengalir ke rekeningnya.

 

Bagi yang punya waktu luang, bisa menekuni usaha sampingan lain dengan menjadi pengumpul seperti yang dilakukan Sunardi dan Ernawati. Selain menjual jamur tiram hasil produksi sendiri, mereka juga membeli jamur dari penyewa lain, lalu dijual kepada para pengumpul dari Bogor dan Jakarta. Sedangkan perawatan jamur ia serahkan ke pekerja. Dalam sehari, Sunardi rata-rata mengumpulkan jamur tiram hingga 700 kg. Bila saja ia mengutip laba Rp300 per kg dari para pekebun, Nardi memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp210.000 per hari atau mencapai Rp6-juta per bulan.

 Di satu sisi, aktivitas Ernawati dan Sunardi itu memperpanjang rantai pemasaran. Namun, di sisi lain, kehadiran mereka justru membantu para penyewa yang tidak sempat memasarkan sendiri produknya. Toh harga beli yang ditawarkan pun masih menguntungkan. ‘Dengan harga jual minimal Rp3.000 per kg, pekebun masih bisa balik modal,’ kata Mamat. Dengan begitu, para penyewa bisa ongkang-ongkang kaki tanpa repot mencari pembeli.Meski bisnis jamur tiram dengan sistem sewa kumbung sangat menggiurkan, bukan berarti bebas batu sandungan. Kerugian mengancam bila pasokan media baru tersendat. Arus permintaan baglog yang kian deras memaksa Mamat menggenjot produksi baglog. Bila kebutuhan baglog tidak terpenuhi, akan menimbulkan masa jeda produksi yang berarti juga menimbulkan biaya. Untuk mengantisipasi hal itu, ‘Bagi yang memerlukan baglog baru, harus memesan sebulan sebelum penggantian baglog,’ ujar Rahmat. Dengan begitu, ia bisa memperkirakan target produksi sehingga kebutuhan baglog para penyewa dapat terpenuhi dan aliran rupiah pun tak akan terhenti.

Sumber: Trubus, Maret 2007



Pijakan Anyar Jamur Tiram
Januari 23, 2008, 2:53 am
Filed under: Teknik Budidaya Jamur Tiram

Truk pengangkut jerami padi itu berhenti di depan kumbung jamur. Seorang pekerja bergegas mengangkat dan mencelupkan jerami ke drum berisi air panas. Lima detik kemudian, ia mengangkat jerami dan menebarkan di atas jaring kawat. Setelah tiris, ia menambahkan 300 g dedak dan 40 g kapur pada 2 kg batang padi kering itu yang dimasukkan ke dalam plastik ukuran 5 kg.

 

Jerami padi itu lazim dimanfaatkan sebagai media tumbuh jamur merang Volvariella volvacea. Namun, Adi Yuwono, pekebun di Ciwidey, Kabupaten Bandung, menggunakannya sebagai media jamur tiram. ‘Merang itu pengganti serbuk gergaji kayu,’ kata Adi Yuwono. Penggunaan media itu memang kontras.

 

Sebagai jamur kayu, tiram biasanya tumbuh di atas media serbuk gergaji kayu tertentu. Ide menggunakan jerami untuk media tanam tiram terlintas ketika Adi pulang kerja melalui Soreang-Ciwidey.Di sana memang terdapat tumpukan jerami. Sarjana Pertanian alumnus Universitas Islam Nusantara itu yakin merang kaya serat dan selulosa seperti serbuk kayu. Ia menguji coba media tanam ‘baru’ itu dengan menanam bibit tiram di 100 baglog jerami. Hasilnya? Total produksi sebuah baglog berbobot 1,2 kg itu mencapai 275 g. Baglog itu berproduksi selama 6 bulan. Itu berarti produktivitas tiram bermedia jerami sama dengan tiram bermedia serbuk gergaji.

 Tingkatkan laba

Selain memanfaatkan jerami baru, pekebun juga dapat menggunakan media bekas penanaman jamur merang. Caranya dengan menebar media itu di atas permukaan lantai untuk mengurangi kadar air. Kadar air berlebihan memicu tumbuhnya cendawan patogen. Setelah itu Adi menambahkan 15-25% serbuk gergaji dari total jumlah kompos, 2,5% bekatul, 1-1,5% kalsium karbonat atau kapur, 0,5% gips, dan 0,25% pupuk TS. Pemanfaatan ‘limbah’ jamur merang sebagai media jamur tiram itu menghasilkan produksi tinggi, 121 g/baglog.

 

Selain produktivitas tinggi, kelebihan penggunaan jerami antara lain diperoleh tanpa membayar sepeser pun. Sebab, jerami merupakan limbah yang biasanya teronggok di tepi sawah. Makanya, biaya yang dikeluarkan hanya ongkos pengangkutan yang sama dengan pengangkutan serbuk gergaji. Hasilnya, ‘Bisa menghemat 50% biaya produksi,’ kata ayah 2 anak itu. Jika media serbuk gergaji kayu membutuhkan biaya Rp700/baglog, jerami padi hanya Rp350/baglog.

 

Pengurangan biaya produksi sangat penting. Sebab, ada saatnya harga jual jamur tiram cenderung stagnan bahkan turun. Jika menjelang puasa dan lebaran jamur tiram mencapai Rp7.000-Rp8.000/kg; hari biasa harganya anjlok menjadi Rp5.000-Rp5.500. Media serbuk kayu komponen biaya tertinggi dalam produksi. Oleh karena itu, Adi rajin mencari dan menoba berbagai media alternatif. Melalui pencarian literatur di dunia maya, diketahui universitas di Korea Selatan telah menggunakan jerami padi sebagai media oyster mushroom itu. Hasil percobaan membuktikan media merang meningkatkan 100% produktivitas dibanding media serbuk gergaji. Karena tertarik, Adi langsung mengaplikasikannya. Pada saat yang sama, Adi juga membuat baglog bermedia jerami berbentuk mirip baglog konvensional.

 

Dua kilogram jerami dikomposkan terlebih dahulu selama tiga hari. Setelah itu dicampur dedak 250 g, kapur 200 g, dan dipadatkan dalam plastik baglog. Sayang, produktivitasnya hanya 121 g/baglog. Itu pun hanya bisa dipakai satu kali produksi. Sudah begitu, jerami yang dipadatkan punya banyak kelemahan. Dari segi teknologi, butuh alat pengempa agar padat. ‘Alatnya mirip pengempa batubara, berbeda dengan alat pengempa serbuk kayu,’ kata Adi. Di lain pihak, plastik yang digunakan mesti tebal agar tidak cepat bocor akibat penekanan. Selain itu, penumpukan jerami saat pengomposan menyebabkan serangga mudah hinggap dan meletakkan telur. Akibatnya, pertumbuhan jamur terhambat dan produktivitasnya rendah. Kelemahan lain, telat panen. Jika sistem konvensional pin head keluar setelah 15-17 hari dari masa inkubasi 30 hari. Jamur tiram dengan media jerami dipadatkan butuh waktu 30 hari pinhead keluar dari baglog.

 Banyak media

Hasil penelusuran Trubus di dunia maya, penggunaan merang sebagai media jamur tiram telah diteliti Ruihong Zhang dari Biological and Agricultural Engineering Department, University of California, Amerika Serikat sejak 2001. Sejak itu, bermunculan penelitian penggunaan berbagai media pengganti serbuk gergaji. Media lain seperti daun pisang, tongkol jagung, klobot jagung, dan gabah padi diteliti Obodai Mcleland-Okine dari Food Research Institute, Ghana. Hasilnya, daun pisang, tongkol jagung, klobot jagung, dan gabah padi dapat memproduksi jamur tiram 111,5 g, 87,8 g, 49,5 g, dan 23,3 g sekali produksi. Masing-masing bahan bisa digunakan 2-3 kali per baglog.

 

Hasil itu memang kecil dibandingkan menggunakan serbuk gergaji yang mencapai 183,1 g dan jerami padi 151,8 g. Penyebabnya, jumlah lignoselulosa, lignin, dan serat pada serbuk gergaji dan merang lebih tinggi. Media tiram lain diteliti E Peker dari Faculty of Technical Education, Mugla University, Turki. Ia menggunakan media limbah kertas ditambah gambut, kotoran ayam, dan gabah. Campuran itu terbukti mempercepat pertumbuhan miselium, hanya 15,8 hari; serbuk gergaji mencapai 30,4 hari. Tudung pun diperoleh pada hari ke 21,4, dan sempurna setelah 25,6 hari dengan produktivitas 350,2 g. Menurut E Peker, besarnya tudung dan kecepatan tumbuh dipengaruhi tingginya nutrisi asal 20% gabah. Lain lagi hasil penelitian Raul J. H. Castro-Gomez dari Biotechnology Prog, Universidade Estadual de Londrina, Brazil. Penggunaan ampas tebu sebagai media jamur dapat mempercepat pertumbuhan jamur dibandingkan media lain. Penyebabnya, ampas tebu mengandung veratil alkohol yang menstimulasi peningkatan tumbuh jamur. Tanpanya, produktivitas turun 50% dan waktu 30% lebih panjang. ‘Hampir semua limbah pertanian berpotensi menjadi media jamur tiram,’ kata Adi Yuwono. Dengan begitu biaya produksi dapat ditekan dan melambungkan keuntungan petani.

 Sumber: Trubus, Desember 2007



Agoes, “Pendekar Jamur’ dari Blitar
Januari 21, 2008, 4:38 am
Filed under: Profil Petani jamur Tiram

Sumber: Kompas 

Awalnya, kegiatan budidaya jamur hanya sebagai pengisi waktu senggang. Ternyata, di balik kehidupan jamur banyak hal sangat menarik dan merupakan komoditas yang menjanjikan. Karena itu, Agoes Poernomo (56) minta pensiunnya sebagai pegawai negeri dipercepat untuk menggeluti budidaya jamur.

Agoes yang warga asli Blitar, Jawa Timur, ini merintis usaha jamurnya tahun 1976. Awalnya, Agoes hanya meletakkan beberapa bibit jamur sekenanya di emperan rumah, dan ruangan lain yang kosong, di sela-sela antara berbagai barang.

Maklum, rumahnya yang berlokasi di Bendogerit, sebelah selatan makam Bung Karno, tidak begitu besar. Dan, budidaya jamur dilakukan hanya untuk mengisi waktu senggang di samping tugasnya sebagai karyawan Pemerintah Kabupaten Blitar.

Selain keluarganya sendiri, ternyata para tetangga Agoes juga menyukai masakan jamur. Dari sinilah lelaki kelahiran 5 Maret 1950 itu terdorong untuk terus meningkatkan pembudidayaan jamur, lalu menjual hasilnya. Pelan tapi pasti, usahanya terus berkembang sehingga emperan rumah dan halamannya tidak bisa lagi menampung bibit-bibit jamur yang dia kemas dalam baglog.

Selain didasarkan pada otodidak, ia juga memanfaatkan pengetahuannya saat bekerja di Dinas Kesehatan dalam pembudidayaan jamur, lalu mengembangkan cara-cara pembudidayaan jamur dari pergaulannya dengan sesama pembudidaya jamur di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Ia juga bekerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang dan Universitas Airlangga Surabaya dalam penelitian dan pengembangan budidaya jamur, seperti pemilihan media tanam jamur.

Agoes kemudian membangun rumah di Desa Sumberdiren Garum, tujuh kilometer dari Kota Blitar ke arah Malang, yang dia jadikan sebagai pusat usaha, lengkap dengan papan nama “Toko Jamur”. Mungkin ini merupakan satu-satunya toko yang khusus menjual produk jamur dalam bentuk segar maupun olahan.

Usaha Agoes yang dimulai dari emperan rumah itu, berkembang pesat sejak tahun 1985. Aset perusahaannya sekarang mencapai sekitar empat miliar rupiah, termasuk tiga pondok pesantren yang didirikannya. Di daerah Blitar saja perusahaan plasma dan mitra kerjanya tercatat 12 unit. Masih ditambah mitra kerja di Malang, Kediri, Nganjuk, Surabaya, Bogor, dan lain-lain.

Belum lagi mereka yang telah menerima pelatihan budidaya jamur dan mampu berdiri sendiri, baik di Jawa maupun luar Jawa. “Sudah lebih dari 30.000 orang yang mengikuti pelatihan,” tutur Agoes, ayah dua anak dan kakek seorang cucu.

Gratis

Pelatihan budidaya jamur dilaksanakan Agoes di berbagai tempat dan forum, dari Aceh sampai Papua, baik kalangan militer maupun sipil. Kelompok masyarakat lain umumnya melaksanakan pelatihan melalui organisasi masing-masing, seperti organisasi pensiunan atau perkumpulan para ibu.

“Instruktur pelatihan hanya saya dan Agung Hidayanto, anak saya. Latihan diberikan gratis,” ujar pria yang masih gesit mengendarai motor dan jip ini.

Agoes menambahkan, bagi mereka yang ingin menerima pelatihan di tempatnya, Desa Sumberdiren Garum, juga dilayani. “Mereka bisa menginap di balai desa dan makan seadanya di rumah ini. Semuanya gratis,” ujar Agoes yang hanya tamat sekolah menengah atas dan oleh tetangga serta pelanggannya dijuluki sebagai “Pendekar Jamur”.

Materi pelatihan meliputi cara pembibitan, pembuatan media jamur, cara budidaya dan perawatannya, teknik memanen, pemasaran, pengolahan (memasak jamur), sampai penanganan limbah menjadi pupuk organik. Seluruh pelatihan tentang teori dan praktik hingga peserta bisa memulai usahanya memerlukan waktu sekitar 10 hari.

Dua macam jamur

Dengan merek dagang “Payung Manfaat” yang telah dipatenkan dan terdaftar pada Departemen Kesehatan RI, Agoes Poernomo membudidayakan dua jenis jamur, yaitu jenis yang dapat dimakan (edible) dan tidak untuk dimakan (non-edible).

Jenis edible pemanfaatannya seperti sayur-mayur, dapat dimasak dengan menggunakan berbagai resep. Atau dijadikan keripik jamur untuk camilan. Jenis ini terdiri atas jamur tiram putih (Pleurotus florida), tiram coklat (Pleurotus cycstidiosus), tiram merah (Pleurotus flatellatus), jamur kuping (Auricularia polytrica), dan jamur shiitake (Lentinus edodes). Jamur-jamur jenis inilah yang banyak diminati konsumen, terutama jamur kuping yang lagi populer untuk sup di restoran-restoran besar.

“Berapa pun produksi kami selalu habis terjual. Bahkan, sering tidak bisa memenuhi permintaan,” katanya. Harga jamur kuping kering di Jawa Timur saat ini berkisar Rp 30.000-Rp 40.000 per kilogram.

Jamur tiram di toko Agoes dijual dalam bentuk segar dengan harga Rp 10.000 per kg untuk partai. Harga eceran Rp 12.000 per kg atau Rp 3.000 per kantong seberat dua ons. Selain produksi dari budidayanya sendiri, jamur ini juga hasil dari beberapa plasma dan mitra usaha yang dibeli Agoes dengan harga Rp 9.000 per kg.

Biaya produksi jamur hanya berkisar Rp 3.500 per kg sehingga memberikan keuntungan yang cukup baik. “Ini cocok sebagai ekonomi rakyat karena mudah dibudidayakan, tidak perlu tempat luas, dan menguntungkan,” papar Agoes.

Sedangkan jamur non-edible yang sering disebut sebagai “jamur kayu”, digunakan sebagai suplemen dan bahan obat-obatan. Jenis ini juga sering disebut dengan nama jamur ling zhi (bahasa China, berarti “pohon kehidupan”), atau jamur rei shi (bahasa Jepang, berarti “jamur spiritual”).

Bubuk ling zhi yang dimasukkan dalam kapsul harganya Rp 75.000 per botol (isi 100 biji). Sedangkan campuran ling zhi dengan kopi atau jahe, per botolnya (isi 50 gram) Rp 15.000- Rp 20.000, tergantung jenis bahan yang dicampurkan



Cara Pemuda Kebonsari Pasuruan Mengatasi Masalah Pengangguran
Januari 18, 2008, 4:03 am
Filed under: Profil Petani jamur Tiram

Rintis Budidaya Jamur hingga Sukses
Tidak ada enaknya jadi pengangguran. Sekumpulan pemuda di Kelurahan Kebonsari, Kota Pasuruan, berusaha mengatasi masalah pengangguran dengan jalan melakukan budidaya jamur tiram. Walau semuanya dilakukan secara swadaya, namun kini produknya sukses di pasaran.Ada yang berbeda jika sempat berjalan-jalan di salah satu sudut Kelurahan Kebonsari. Meski dekat dengan lingkungan padat penduduk, para pemuda di kelurahan tersebut nekat membuat areal budi daya jamur. Khususnya jamur tiram yang banyak diminati pasar.Cerita tentang asal muasal budi daya jamur ini diungkap oleh Rahmad Tjahyono, koordinator Pemuda pemberdayaan jamur Kelurahan Kebonsari. Dia mengaku, tertarik menghimpun kekuatan warga setempat yang seusia dengannya karena masih banyak yang menganggur.
“Sebagian benar-benar tidak punya pekerjaan. Kalaupun punya pekerjaan, hanya serabutan. Dulunya, mereka hanya punya aktivitas ngopi di warung. Ngobrol ngalor ngidul. Tidak bisa menghasilkan uang. Malah untuk rokok, atau uang kopinya bisanya ngutang,” tutur Rahmad terus terang.Tanpa disengaja, mereka dapat tantangan dari salah seorang pengepul jamur yang sudah punya pasar lokal. Informasi yang mereka dapat, dengan permintaan yang luar biasa, stok jamur di pasaran sangat minim.Tantangan pasar yang cukup menggiurkan, membuat mereka tergugah. Mulailah mereka mencoba usaha baru itu. Belajarnya otodidak. Hanya baca-baca buku tentang cara budidaya jamur, sambil sinau ke salah seorang petani jamur merang yang sudah lebih dulu berhasil. Itupun dicari di lokasi budidaya jamur yang paling dekat.Akhirnya, keputusanpun diambil. Mereka memilih modal swadaya. Tentu saja uangnya dikumpulkan dari hasil patungan. Uang yang terkumpul dari kumpulan pemuda ini sangat terbatas, hanya sekitar Rp 2 jutaan. Tapi, mereka tidak patah arang. Budidaya jamur tiram itupun dirintis dengan sebuah kumbung (kandang jamur) kecil di areal terbuka, milik salah satu dari mereka.Ternyata, apa yang menjadi impian mereka terwujud. Proyek swadaya mereka sukses dipanen. Dalam hitungan 2 bulan saja, mereka sudah bisa panen jamur tiram. Setiap harinya mereka bisa panen 5 kilo jamur. Harganya pun tidak murah. Karena bisa laku Rp 12.500, per kilonya.”Melalui budidaya jamur ini kami berharap para pengangguran tidak meratapi nasibnya, namun mereka terus berjuang untuk mengatasinya. Karenanya kami bermaksud menyebarkan teknologi pengelolaan budidaya jamur ini kepada pemuda-pemuda lainnya. Alhamdulillah jika Pemkot Pasuruan nantinya ikut membantu kami memberdayakan pemuda yang lain,” tandas Rahmat Tjahyono. Karena hasil yang masih sedikit, untuk pemasarannya mereka bekerjasama dengan ibu-ibu PKK di Kelurahan Kebonsari. Hasil panenan mereka tidak pernah tersisa. Sebab, rasanya yang selangit, sedikit kenyal, dan dianggap sebagai makanan kesehatan pengganti daging membuat jamur kian jadi primadona.Kesuksesan para pemuda inipun berlanjut. Tapi sebelumnya sempat mengalami kemacetan karena alasan kekurangan modal. Lagi-lagi keputusannya tanggung renteng, hingga terkumpul lagi modal sebesar Rp 3 juta. Namun ketika itu hasilnya masih saja tidak optimal dan terpaksa macet.Untunglah, semangat mereka yang membara mendapat perhatian pemerintah. Tanpa diminta, proyek kecil-kecilan pemuda pengangguran itu dikucuri dana rangsangan dari PAM DKB yang merupakan program bantuan akibat dampak kenaikan BBM. Nilainya tidak sedikit. Sekitar Rp 18 juta. Perlahan tapi pasti, produktivitas jamur tiram itupun kembali bangkit.“Prospek pasar untuk komoditas jamur ini sangat menjanjikan. Untuk kalangan rumah tangga di Kelurahan Kebonsari saja, kami tidak dapat mencukupinya. Sekarang ini, malah sudah banyak permintaan pasar di daerah lain. Bahkan sampai Kabupaten Pasuruan. Tapi sayang, kami belum bisa memenuhi permintaan itu,” tukas kata Novie Cahyadi, bagian pemasaran jamur tiram pemuda Kelurahan Kebonsari.Radar Bromo sempat melihat langsung kondisi kumbung yang dibangun di atas lahan seluas 6 kali 10 meter itu. Di tumpukan jerami yang memenuhi rak-rak kumbung tersebut banyak dipenuhi jamur tiram. Bahkan diantara jamur-jamur tiram, terdapat satu jamur tiansi yang berwarna merah. “Jamur tiansi ini harganya mahal karena berkhasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit. Harga jamur tiansi saat ini mencapai Rp 75.000 setiap ons dan biasanya pertumbuhannya juga sulit,” terang bagus, Bagian perawatan pemuda budidaya jamur Kebonsari.Setelah jamur tiram, mereka berharap bisa menghasilkan jamur tiansi dalam jumlah yang lumayan. Sebab, keunggulan jamur tiansi sebagai obat sudah memiliki pasar khusus yang tidak diragukan lagi. Dengan tambahan konsentrasi pada jenis jamur obat ini, para pemuda itu menginginkan bisa menambah lagi modal yang sudah dimilikinya sekarang.



Potensial, Pasar Jamur di Bali
Januari 18, 2008, 4:01 am
Filed under: Tak Berkategori

Denpasar (Bali Post) -
Pemasaran jamur di
Bali cukup potensial khususnya untuk kebutuhan hotel, restoran, swalayan dan pasar tradisional. Sayangnya petani jamur Bali belum bisa memenuhi permintaan pasar karena belum tahu teknologi dan kurang pengalaman. Demikian dikatakan Ketua Masyarakat Jamur Indonesia (MAJI) Cabang Bali Ida Ayu Mariana Endang Marka, ketika memberikan pelatihan budidaya jamur di Pasar Oleh-oleh  Koperasi Krama Bali di Jalan Raya Kuta No. 88, Tuban, Rabu (5/4) kemarin.Menurutnya, jamur tiram patut diperhitungkan sebagai komoditi andalan pada sektor agrobisnis. Sebab, jamur ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Salah satunya untuk bisnis makanan olahan serta dipergunakan sebagai bahan obat. “Berkhasiat obat serta laku sebagai makanan olahan inilah membuat permintaan pasar Bali cukup banyak,” katanya.Berdasarkan data, kebutuhan jamur Bali sekitar 1.000 kg setiap bulannya. Karena sedikitnya jumlah petani yang membudidayakan jamur di Bali mengakibatkan tidak terpenuhinya permintaan pasar. Alhasil keberadaan jamur tiram baik dipasaran tradisional maupun pasar swalayan menjadi langka. “Bila dibandingkan dengan bercocok tanam jenis sayuran lainnya, kelemahan masyarakat sebagian besar karena belum tahu teknik budi daya, bagaimana cara memasarkan serta mengkalkulasi keuntungan yang diperoleh,” tuturnya.Jumlah petani jamur di Bali sekarang ini sekitar 20 orang yang tersebar di Tabanan, Jembrana, Karangasem, Bangli, dan Gianyar. Ke 20 orang petani tersebut, saat ini masih membeli bibit di PT Alam Bali Mushroom (Albamas) Bali.Mengenai harga jamur ditawarkan bervariasi tergantung jenis jamurnya. Misalnya, jamur tiram berkisar antara Rp 17.500 hingga Rp 25.000 per kg dan jamur sitake Rp 40.000 per kg. Pasar ekspor Mengenai peluang pasar ekspor sendiri, menurut Endang, kebutuhan jamur tiram dalam bentuk kering maupun yang telah dikalengkan untuk pasar Asia seperti Singapura, Taiwan, Jepang, dan Hongkong cukup tinggi. Sementara pemenuhan pangsa pasar Eropa masih terbatas akibat minimnya jumlah produksi.Masih terbatasnya produksi jamur tiram Bali untuk memenuhi permintaan pasar lokal dan pasar ekspor, harapannya, petani jamur Bali seharusnya bisa memanfaatkan peluang ini dengan membudidayakan jamu tiram lebih banyak lagi, sehingga mampu memenuhi permintaan pasar.




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.